Maluku Buka Peluang Investasi Perikanan hingga Rempah, Gubernur Sebut 158 Ribu Hektare Lahan Budidaya Baru Terpakai 3.816 Hektare

Penulis: Tedy Rustandi  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 21:38:01 WIB
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyampaikan potensi investasi sektor perikanan dan rempah di Ambon, Senin (16/6/2025).

Pemerintah Provinsi Maluku resmi menawarkan peluang investasi di sektor perikanan dan rempah kepada investor, dengan fokus pada hilirisasi dan pembangunan rantai nilai yang terhubung ke pasar nasional dan global. Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa potensi besar yang dimiliki daerahnya belum tergarap optimal, terutama pada pemanfaatan lahan budidaya laut yang baru mencapai 2,4 persen dari total luas yang tersedia.

AMBON — Provinsi Maluku membuka keran investasi di sektor kelautan dan perkebunan rempah, menargetkan transformasi potensi sumber daya alam menjadi kekuatan ekonomi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat. Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyatakan karakter daerah sebagai provinsi kepulauan menjadi modal utama untuk menarik modal yang mampu membuka lapangan kerja dan memperkuat industri lokal.

"Potensi yang dimiliki Maluku harus ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja dan memperkuat industri lokal," kata Hendrik di Ambon, Senin.

Lahan Budidaya Laut Baru Tergarap 3.816 Hektare

Dari total luas wilayah Maluku yang mencapai 712.498 kilometer persegi, sekitar 93,5 persen merupakan perairan. Wilayah itu terdiri atas 1.422 pulau dengan garis pantai sepanjang 10.914 kilometer, menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai bidang dengan prospek investasi paling besar.

Maluku berada pada tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yakni WPP 714, 715 dan 718 yang meliputi Laut Banda, Laut Seram dan Laut Arafura. Komoditas tuna, cakalang dan tongkol menjadi kekuatan utama perikanan tangkap daerah.

Namun, Hendrik menyoroti potensi perikanan budidaya yang masih jauh dari optimal. Ia menyebut lahan budidaya laut di Maluku mencapai sekitar 158 ribu hektare, sementara pemanfaatannya baru sekitar 3.816 hektare.

"Ini menunjukkan ruang investasi yang masih sangat besar, terutama pada pengolahan hasil perikanan, cold chain, pengalengan dan penerapan teknologi modern," ujarnya.

Pala dan Cengkih Tak Lagi Dijual Mentah

Di luar sektor perikanan, Pemprov Maluku menawarkan pengembangan komoditas rempah sebagai bagian dari ekonomi berbasis unggulan daerah. Pala dan cengkih yang menjadi identitas Maluku sebagai Kepulauan Rempah dinilai perlu dikembangkan melalui standardisasi mutu, branding, hilirisasi dan pengembangan produk turunan.

Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing komoditas rempah Maluku sekaligus memperluas akses pasar ekspor. Hendrik menegaskan investasi yang masuk tidak boleh berhenti pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi harus membangun keterkaitan ekonomi dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Sektor Lain yang Ditawarkan ke Investor

Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan sektor potensial lain seperti pariwisata bahari, energi terbarukan dan logistik. Sejumlah kawasan seperti Banda Neira, Kepulauan Kei, Pantai Ora, Ngurbloat, Ngurtafur dan Pulau Bair memiliki peluang dikembangkan melalui investasi akomodasi, konektivitas antarpulau serta desa wisata berbasis masyarakat.

Karakter kepulauan Maluku juga membuka peluang pengembangan tenaga surya, angin, mikrohidro, biomassa, panas bumi hingga energi laut. Peluang tersebut diperkuat dengan sejumlah proyek strategis daerah, antara lain pengembangan Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub (MILH), pengembangan Pariwisata Banda, Bendungan Way Apu, serta hilirisasi pala dan kelapa.

"Kami ingin investasi yang masuk tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Hendrik.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top