Produksi Rumput Laut Tanimbar Anjlok 50 Persen, Pemkab dan BRIN Turun Tangan Edukasi Pembudidaya di Empat Desa

Penulis: Ramli Siregar  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:35:01 WIB
Produksi rumput laut di Kabupaten Kepulauan Tanimbar turun sekitar 50 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar bersama BRIN menggencarkan edukasi budidaya rumput laut menyusul produksi komoditas unggulan itu merosot hingga sekitar 50 persen dalam beberapa tahun terakhir. Pendampingan menyasar pembudidaya di Desa Lamdesar Timur, Lamdesar Barat, Kelaan, dan Keliobar.

AMBON — Penurunan produksi hingga separuh dari kondisi normal menjadi alarm bagi sektor perikanan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Pemerintah kabupaten pun menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk membekali pembudidaya dengan teknik budidaya yang sesuai kondisi perairan setempat.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Poly Matitaputty, mengatakan penguatan kapasitas ini menyasar langsung pembudidaya di empat desa, yakni Lamdesar Timur, Lamdesar Barat, Kelaan, dan Keliobar.

Bibit, Musim, dan Penyakit Jadi Biang Kerok

Matitaputty memaparkan sejumlah kendala yang membayangi para pembudidaya dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan bibit berkualitas menjadi persoalan paling mendasar, disusul perubahan musim yang kini semakin sulit diprediksi.

"Edukasi dan penguatan kapasitas ini penting agar pembudidaya dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan menyesuaikan teknik budidaya dengan kondisi lingkungan," ujarnya.

Fluktuasi suhu dan kondisi perairan, teknik pemeliharaan yang belum optimal, pola tanam, hingga serangan penyakit turut memperparah penurunan hasil panen.

Riset BRIN: Kunci Sukses Dimulai dari Pemilihan Lokasi

Tim BRIN memberikan pemahaman bahwa keberhasilan budidaya rumput laut tidak dimulai saat bibit ditanam, melainkan sejak penentuan lokasi. Tahapan ini berlanjut hingga penanganan pascapanen yang kerap diabaikan.

Pembudidaya didorong untuk tidak sekadar mengandalkan kebiasaan turun-temurun. Pemilihan bibit dari tanaman yang sehat, memiliki pertumbuhan baik, dan bebas gejala penyakit menjadi syarat mutlak agar tanaman mampu beradaptasi dengan perairan Tanimbar.

Kalender Musim Jadi Pegangan Baru Pembudidaya

Waktu tanam juga menjadi sorotan dalam edukasi tersebut. Perubahan suhu, arus, dan pola musim disebut dapat memicu kegagalan budidaya jika tidak diantisipasi sejak awal.

Pendekatan kalender musim dinilai perlu dikembangkan. Dengan begitu, pembudidaya dapat menentukan waktu penanaman dan pengambilan bibit berdasarkan kondisi lingkungan yang sedang berlangsung, bukan perkiraan semata.

Matitaputty berharap sinergi dengan BRIN tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar mengubah praktik budidaya masyarakat.

"Penguatan kapasitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong rumput laut sebagai salah satu komoditas perikanan yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Kepulauan Tanimbar," katanya.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top