Pameran Fosil Patiayam Kudus Tampilkan Gigi Hiu Purba, Bukti Selat Muria Pernah Ada

Penulis: Pandu Wibisono  •  Minggu, 30 Agustus 2026 | 17:49:01 WIB
Pengunjung mengamati koleksi gigi hiu purba dalam Pameran Fosil Patiayam di Museum Situs Purbakala Patiayam, Kudus, Sabtu (29/8/2026).

MALUKU — Kabupaten Kudus yang kini dikenal sebagai kota kretek ternyata menyimpan jejak lautan purba di bawah tanahnya. Museum Situs Purbakala Patiayam, yang terletak di kawasan Kecamatan Jekulo, menjadi saksi bisu bagaimana Selat Muria—yang dulu memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Muria—berubah menjadi daratan. Dalam pameran yang digelar 28-30 Agustus 2026, museum ini untuk pertama kalinya memajang sejumlah fosil yang sebelumnya tersimpan rapi di gudang koleksi.

Koleksi Langka yang Baru Pertama Kali Dipamerkan

Ada yang berbeda dari pameran kali ini. Kurator Museum Situs Purbakala Patiayam, Ari Mustakim, mengungkapkan bahwa beberapa fosil hewan laut yang ditampilkan belum pernah disajikan kepada publik sebelumnya. "Kebetulan yang kita pamerkan itu ambil tema sesuai dengan habitat di sini, Selat Muria," kata pria yang akrab disapa Takim ini saat ditemui di lokasi, Sabtu (29/8/2026).

Fosil gigi ikan hiu menjadi primadona utama. Diperkirakan berusia 5 hingga 3 juta tahun lalu, gigi hiu ini ditemukan sejak 2010 dan selama ini hanya menjadi koleksi internal museum. Selain itu, ada keong purba berukuran besar yang juga pertama kali dipamerkan. "Keong ini ditemukan pada tahun 2010. Ini belum sempat dipamerkan di museum," ujar Takim.

Secara keseluruhan, museum menyimpan 10.700 fosil. Namun yang dipamerkan kali ini difokuskan pada kerang, keong, dan gigi ikan hiu sebagai bukti kuat keberadaan Selat Muria.

Jejak Selat Muria yang Kini Menjadi Daratan

Wilayah Terban atau Situs Patiayam dulunya merupakan bagian dari Selat Muria yang memisahkan Pulau Jawa dengan Pulau Muria. Seiring waktu, selat ini mengalami sedimentasi dan berubah menjadi daratan seperti yang terlihat sekarang. "Selat Muria dulu pulau sendiri, terpisah dengan Pulau Jawa dan di sana terdapat sebuah selat, itu menjadi darat. Ini menjadi salah satu bukti dulu Selat Muria ditemukan adanya kerang purba, keong, gigi ikan hiu," jelas Takim.

Bagi pengunjung yang datang, pameran ini memberikan perspektif baru tentang sejarah geologi Jawa Tengah. Muhammad Rohman, salah satu pengunjung yang baru pertama kali datang ke Patiayam, mengaku takjub dengan koleksi yang ditampilkan. "Baru pertama kali ini, menarik sekali ada berbagai fosil hewan laut yang jarang ditemui, bisa menambah wawasan dan pengetahuan," tuturnya.

Informasi Kunjungan Museum Situs Purbakala Patiayam

Bagi traveler yang penasaran dengan jejak lautan purba di Kudus, pameran ini menjadi kesempatan langka untuk melihat koleksi yang biasanya tidak ditampilkan. Namun perlu dicatat, pameran khusus ini hanya berlangsung tiga hari hingga 30 Agustus 2026. Setelah itu, koleksi reguler museum tetap bisa dikunjungi.

Untuk informasi terkini mengenai jam operasional dan tiket masuk, wisatawan disarankan menghubungi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus atau akun resmi Museum Situs Purbakala Patiayam. Lokasi museum berada di kawasan Situs Patiayam yang juga dikenal sebagai area temuan fosil gajah purba (Stegodon) dan berbagai artefak prasejarah lainnya.

Berkunjung ke Patiayam memberikan pengalaman berbeda dari wisata Kudus pada umumnya. Selain berziarah ke Menara Kudus atau mencicipi soto Kudus, menyusuri jejak geologi di museum ini bisa menjadi alternatif edukasi yang menarik, terutama bagi keluarga yang ingin mengenalkan sejarah alam pada anak-anak. Kombinasi antara nilai ilmiah dan pengalaman langsung melihat fosil asli membuat kunjungan ke sini layak masuk daftar itinerary Anda di Jawa Tengah.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top