Baju Adat Maluku Dilirik Anak Muda untuk Wisuda dan Prewedding, Sanggar Kalwedo: Kebanggaan Identitas Tetap Hidup

Penulis: Tedy Rustandi  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 12:03:01 WIB
Anak muda Maluku mengenakan pakaian adat lengkap dengan aksesori tradisional saat menghadiri acara wisuda di Ambon.

Filosofi pakaian adat Maluku melampaui estetika. Setiap helaian merepresentasikan keberanian, persatuan, dan kekayaan alam yang dijaga turun-temurun. Yang paling ikonik berasal dari Maluku Barat Daya: rompi merah tanpa lengan, kain ikat pinggang, celana tiga perempat, dan penutup kepala dari bulu burung.

Tombak dan perisai yang menyertainya bukan sekadar aksesori. Keduanya melambangkan keberanian para kapitan yang dulu mempertahankan tanah Maluku. Kini simbol itu hidup kembali dalam berbagai kegiatan resmi dan seremonial.

Dulu Dianggap Kuno, Kini Jadi Permintaan untuk Wisuda dan Prewedding

Joni Jonsa mengamati perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. "Dulu dianggap kuno. Sekarang anak-anak justru minta dibuatkan baju adat untuk wisuda dan foto prewedding. Ini tanda identitas kita hidup," ujarnya saat ditemui di Ambon, akhir Agustus 2026.

Fenomena ini, menurut Joni, menunjukkan tradisi dan modernitas tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Dengan sentuhan kreativitas, pakaian adat tidak lagi terbatas pada ruang ritual, tapi merambah gaya hidup sehari-hari kaum muda.

Festival Budaya Jadi Panggung Memperkenalkan Busana Adat ke Dunia

Upaya pelestarian tidak berhenti pada penggunaan di acara resmi. Sejumlah festival tahunan seperti Festival Teluk Ambon, Festival Banda, dan Pekan Kebudayaan menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan sekaligus mempopulerkan busana adat ke khalayak yang lebih luas.

Di panggung-panggung itulah pakaian adat Maluku tampil dengan penyesuaian terhadap tren mode tanpa kehilangan akar budayanya. Beberapa desainer lokal mulai mengombinasikan potongan tradisional dengan gaya kontemporer agar semakin relevan bagi generasi sekarang.

Joni menilai kondisi ini menjadi peluang besar. Budaya lokal tidak lagi dipandang sebagai warisan masa lalu yang kaku, melainkan bagian dari kebanggaan identitas yang bisa dipakai dan dibanggakan di berbagai momentum, dari pelantikan pejabat, pernikahan adat, hingga panggung nasional dan internasional.

Ia berharap tren ini terus berlanjut, bukan hanya sebagai gaya sesaat. "Selama generasi muda mau memakai dan memperkenalkannya, pakaian adat Maluku tidak akan pernah punah," kata Joni.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top