BANDA BESAR — Puluhan nelayan di Kepulauan Banda belajar membaca peta gelombang dan kecepatan angin lewat gawai masing-masing. Mereka adalah peserta Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Plus yang digelar di Balai Negeri Selamon, Banda Besar, Maluku Tengah, Jumat (3/7/2026).
Dalam pelatihan itu, staf BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Suaif, menunjukkan cara membaca gradasi warna pada peta gelombang Maluku. Warna biru menandakan laut tenang, hijau rendah, kuning sedang, oranye tinggi, dan merah sangat tinggi.
“Kalau warna biru menunjukkan laut dalam kondisi tenang, hijau rendah, dan kuning sedang,” ujar Suaif di hadapan lima nelayan yang duduk melingkar. “Kemudian warna oranye menandakan gelombang tinggi serta merah menerangkan gelombang sangat tinggi.”
Cuaca Ekstrem Mengintai Laut Banda
Pelatihan ini tidak sekadar mengenalkan teknologi. Para nelayan juga diajak memetakan risiko keselamatan, mengingat Laut Banda dikenal sebagai salah satu wilayah pembentukan cuaca ekstrem di Indonesia.
Ahli Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, dalam bukunya menulis bahwa gelombang yang aktif di atas Laut Banda-Maluku berinteraksi dengan Madden Julian Oscillation (MJO) fase 4 di kawasan timur Indonesia. Interaksi atmosfer ini memperkuat pembentukan cuaca ekstrem, meningkatkan risiko angin kencang dan gelombang tinggi bagi nelayan.
Musliadi, salah satu peserta, mengaku merasakan dampak perubahan iklim yang menggeser pergantian monsun. Nelayan asal Negeri Selamon ini biasanya mengandalkan GPS untuk merekam lokasi fishing ground tuna di Laut Banda, tetapi kini pola cuaca semakin sulit diprediksi.
Membaca Data INAWIS untuk Temukan Fishing Ground
Dalam kelas tersebut, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Hasan, memperkenalkan produk informasi cuaca maritim. Nelayan diajak membaca data Indonesian Weather Information for Shipping (INAWIS) yang terintegrasi dengan situs BMKG.
“INAWIS terintegrasi dengan situs cuaca dan iklim BMKG. Fiturnya membantu nelayan menemukan lokasi keberadaan ikan secara spesifik dan jenisnya,” papar Hasan.
Fitur ini dinilai memudahkan nelayan mencari daerah penangkapan ikan potensial sekaligus memantau kondisi laut secara real-time. “Situs BMKG mudah diakses dan sangat membantu sekali mengetahui kondisi cuaca terkini,” kata Musliadi.
Destana Kepulauan: Konsep Baru Desa Tangguh di Maluku
SLCN Plus merupakan kolaborasi Yayasan SAHARI bersama BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim Ambon, didukung Caritas Germany dan BNPB. Kegiatan ini menjadi bagian dari program desa tangguh bencana (Destana) yang disesuaikan dengan karakteristik Maluku.
Direktur Program Yayasan SAHARI, Noni Tuharea, mengatakan konsep Destana di Maluku harus mempertimbangkan kondisi geografis yang didominasi pulau-pulau kecil. Yayasan SAHARI menyebutnya sebagai Destana Kepulauan.
“Namun, karakteristik Provinsi Maluku ini kan pulau-pulau kecil dan masyarakat banyak tinggal di pesisir. Karena itu, konsep Destana juga harus menjadi konsep membangun pulau kecil tangguh bencana,” jelas Noni.
Program Destana Kepulauan dijalankan di sejumlah desa di Pulau Kelang, Pulau Ambon, dan Kepulauan Banda. Warga di desa-desa tersebut lebih dulu memetakan risiko dan ancaman bencana, lalu didampingi staf Yayasan SAHARI melalui asesmen lapangan.