MALUKU — Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa berbeda dari pameran museum biasa. GIK menantang Curaweda untuk membuat pengalaman yang imersif, interaktif, dan punya unsur permainan—bukan sekadar presentasi visual satu arah.
Hasilnya, pengunjung bisa berinteraksi dengan tokoh sejarah dan menyaksikan film mengenai awal mula pembangunan Borobudur. Semua dikemas tanpa biaya masuk alias gratis hingga Desember 2026.
Ide ini justru lahir dari percakapan tak terduga. CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, suatu waktu berbincang dengan seorang raja muda di salah satu keraton Cirebon. Raja tersebut baru menggantikan ayahnya yang wafat dan mengeluhkan keratonnya yang luas—sekitar 25 hektare—yang bingung mau diapakan.
"Kita punya teknologi, tapi kita bingung ini mau diapain," cerita Azhar saat peluncuran di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Dari obrolan itu muncul pertanyaan: bagaimana jika teknologi dipakai untuk membangkitkan raja-raja Nusantara agar menceritakan kisah mereka sendiri? "Gimana ya kalau misalnya teknologi yang ada itu membangkitkan raja-rajanya lagi, untuk menceritakan cerita mereka sendiri," imbuhnya.
Pendekatan ini juga menyelesaikan masalah konsistensi informasi. Azhar menilai penjelasan antar pemandu wisata kerap berbeda soal detail sejarah. Dengan narasi terkuras sumber, cerita yang disampaikan pun punya standar yang sama.
Setahun mencari bentuk, Curaweda membawa konsep ini ke Borobudur pada awal 2025. Tantangan terbesar justru menemukan otoritas yang berwenang soal sumber sejarah dan kurasi. Prosesnya bolak-balik Bandung-Yogyakarta karena pembahasan sejarah dinilai tidak cukup lewat daring.
Setelah tembus ke Museum dan Cagar Budaya serta unit konservasi Borobudur, Curaweda dipertemukan dengan arkeolog dan antropolog. Universitas Gadjah Mada juga dilibatkan untuk validasi sejarah. Draf awal film Purwacarita Borobudur selesai sekitar Agustus 2025, menjadi materi yang membuka jalan menuju Galeri Indonesia Kaya.
President Director Bening Digital Indonesia, Lia Marliana, mengenalkan proyek ini ke Program Director GIK, Renitasari Adrian, pada Januari 2026. Renitasari yang menilai konsepnya menarik langsung mengajak tim berkolaborasi selama sekitar enam bulan.
"Kami di sini selalu percaya sama yang namanya semuanya tuh pasti kalau sudah waktunya dan jodoh, semuanya akan dimudahkan dan lancar," ujar Renitasari.
Bagi gamer dan pengunjung yang penasaran, pengalaman ini layak dicoba. Menghidupkan sejarah dengan sentuhan teknologi interaktif bisa jadi bentuk edukasi baru yang lebih relevan untuk generasi sekarang.