PSSI Kecam Penyerangan Bus EPA Persib U-18 di Rest Area Batang KM 360

Penulis: Pandu Wibisono  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 18:50:02 WIB
Bus rombongan EPA Persib U-18 dirusak dalam penyerangan di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah.

MALUKU — Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengecam keras penyerangan rombongan tim Persib Bandung U-18 di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, Minggu (11/10) malam. Aksi kriminal itu merusak bus, diduga menjarah koper, hingga melukai personel media Persib. PSSI berjanji berkoordinasi dengan kepolisian untuk menangkap dan memberi sanksi seberat-beratnya kepada para pelaku.

Insiden yang menimpa kontingen Elite Pro Academy (EPA) Maung Bandung itu terjadi saat rombongan dalam perjalanan pulang. Kerusakan material dan dugaan penjarahan barang bawaan memperparah situasi, sementara sejumlah personel media yang ikut dalam rombongan juga menjadi sasaran kekerasan fisik.

Yunus Nusi: Keselamatan Insan Sepak Bola Harus Jadi Prioritas

PSSI menegaskan tidak ada ruang toleransi bagi para pelaku kekerasan. Yunus menyebut keselamatan semua pihak yang terlibat dalam sepak bola, termasuk suporter dan pemain muda, sebagai prinsip yang tidak bisa ditawar.

"PSSI menegaskan bahwa keselamatan seluruh insan sepak bola, termasuk suporter tim nasional maupun klub, harus menjadi prioritas. Sejalan dengan komitmen bersama FIFA, setiap orang yang datang untuk menonton sepak bola harus dapat pulang ke rumah dengan selamat," ujar Yunus Nusi dalam keterangan resminya.

Serangan ke Pemain Usia Dini Dinilai di Luar Nalar

Yang paling membuat PSSI geram, sasaran penyerangan adalah pemain belia yang sama sekali tidak terlibat dalam tensi rivalitas antarsuporter. Yunus menilai para pemain EPA tidak tahu-menahu soal permusuhan yang kerap diciptakan oknum di luar lapangan.

"PSSI sangat prihatin dan ini sesuatu hal yang sulit masuk di nalar akal sehat karena kejadian ini pertama menimpa anak-anak pemain muda, yaitu Elite Pro Akademi Persib Bandung," sambung Yunus.

"Anak-anak ini tidak tahu apa-apa tentang rivalitas. Mereka murni bermain bola dengan semangat untuk kepentingan pribadi, kepentingan klub, dan kepentingan sepak bola nasional yang seharusnya dihargai oleh siapa pun, walaupun itu suporter lawan," kata Yunus.

PSSI Desak Polisi Bergerak Cepat Tangkap Pelaku

Induk organisasi sepak bola nasional itu menyatakan akan langsung berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengusut tuntas insiden tersebut. PSSI mendesak aparat menangkap para pelaku dan memberikan sanksi pidana yang setimpal.

"Kami sangat menyayangkan. Ini sudah tidak masuk akal, apa yang dilakukan oleh mereka-mereka ini dengan begitu ganasnya melakukan tindakan kriminal. PSSI akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap, mencari, menangkap, serta memberikan sanksi yang seberat-beratnya," ucap Yunus.

Rivalitas 2x45 Menit Hanya untuk Pemain, Bukan Suporter

Yunus juga menyoroti budaya rivalitas ekstrem yang menurutnya sudah keterlaluan. Baginya, rivalitas seharusnya cukup berlangsung di lapangan selama 2x45 menit dan hanya melibatkan pemain, bukan berujung pada kekerasan di luar pertandingan.

"Kalau seperti ini ulah-ulah suporter, tidak akan ada damai di sepak bola kita. Bayangkan saja, anak-anak Elite Pro Akademi yang masih usia dini dibuat seperti ini oleh suporter. Kami sangat menyayangkan. Sampai kapan ini akan berakhir kalau kita tidak saling sadar? Untuk apa kita melakukan hal-hal seperti itu?" terang Yunus.

"Kita juga berharap bahwa, ya, harus diakui rivalitas itu hanya 45 kali 2, itu pun cukup hanya ada di pemain. Suporter, ya, menang bersyukur, kalah harus diterima, dan tidak ada rivalitas yang ekstrem seperti ini. Kami sangat menyayangkan hal ini terjadi. Sekali lagi kami mohon kepada pihak kepolisian untuk memberikan hukuman yang berat, menangkap mereka-mereka ini, dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya," tukasnya.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top