Peneliti Florida Kembangkan Alat WRI untuk Targetkan Piton Betina Besar

Penulis: Ramli Siregar  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 11:20:31 WIB
Peneliti University of Florida mengembangkan alat Weighted Removal Index untuk menilai dampak ekologis penangkapan piton Burma di Florida Selatan.

MALUKU — Peneliti University of Florida mengembangkan Weighted Removal Index (WRI), alat penilaian yang memberi bobot ekologis pada setiap piton Burma yang ditangkap di Florida Selatan. Alat ini mengubah strategi penyingkiran ular invasif dari sekadar mengejar jumlah tangkapan menjadi pemburuan individu berdampak besar, terutama betina besar yang paling memengaruhi pertumbuhan populasi.

Studi yang dipublikasikan tim Institute of Food & Agricultural Sciences (IFAS) University of Florida menempatkan betina berukuran besar sebagai target prioritas. Dalam sistem WRI, satu betina besar bisa bernilai 100 poin ekologis, sementara piton kecil hanya lima poin. Perbandingan itu memberi pemburu gambaran konkret: berapa banyak ular kecil yang harus ditangkap untuk menyamai dampak menyingkirkan satu induk produktif.

Mengapa Piton Betina Besar Jadi Prioritas

Ahli ekologi Alex Romer, penulis utama studi, menyebut riset sebelumnya menganggap semua piton Burma memberi kontribusi setara terhadap populasi. Asumsi itu keliru. Menyingkirkan betina terbesar yang pernah tertangkap, kata Romer, jauh berbeda dampaknya dibanding menangkap ular kecil yang mungkin tidak bertahan hidup hingga tahun berikutnya.

Pendekatan berbobot ini juga membongkar bias data penangkapan. Selama ini program penyingkiran dinilai dari jumlah ular yang berhasil diambil kontraktor. Padahal angka mentah itu tidak menunjukkan seberapa besar tekanan yang berhasil ditekan terhadap populasi.

Asal Masalah: Perdagangan Hewan Peliharaan Eksotis

Populasi piton Burma di Florida bermula dari ledakan perdagangan hewan peliharaan eksotis pada abad ke-20. Banyak ular kabur atau dilepaskan pemilik yang tidak lagi mampu merawatnya. US Geological Survey memperkirakan ada puluhan ribu piton Burma di kawasan Greater Everglades saja.

Ular ini tidak berbisa, tetapi bisa tumbuh hingga 4,5 meter atau lebih. Mangsa utamanya mencakup mamalia dan burung asli, termasuk spesies yang statusnya terancam punah. Karena itu, piton Burma masuk kategori spesies invasif yang merusak keseimbangan ekosistem Everglades.

Januari dan Februari Ternyata Bulan Penting

Studi yang sama menemukan dimensi waktu yang selama ini terabaikan. Secara umum, jumlah ular yang tertangkap pada Januari dan Februari memang lebih sedikit. Namun ular yang tertangkap pada rentang itu punya kemungkinan lebih tinggi berjenis kelamin jantan dan betina dewasa.

"Jika Anda hanya menghitung jumlah piton yang ditangkap kontraktor, bulan Januari dan Februari tampak tak begitu penting. Namun, kala dimasukkan pembobotan demografis, bulan-bulan tersebut tiba-tiba terlihat jauh lebih penting," kata Romer, dikutip dari BBC.

Dampak ke Program Penyingkiran Florida

Program penyingkiran piton di bawah kontrak negara bagian Florida menjadi sasaran penerapan WRI. Dengan alat ini, setiap penangkapan bisa diukur dampaknya, bukan cuma dicatat jumlahnya. Kerja kontraktor pun berpeluang lebih terstruktur karena prioritas target menjadi jelas.

Bagi pemburu, implikasi praktisnya cukup langsung: seekor betina besar yang sedang mengandung atau siap berkembang biak layak dikejar lebih dulu ketimbang beberapa ular kecil. Sumber daya lapangan yang terbatas bisa diarahkan ke individu dengan kontribusi populasi terbesar.

Konteks Pengelolaan Spesies Invasif

Pendekatan berbobot semacam ini bukan hal baru dalam pengelolaan satwa invasif, tetapi penerapannya pada piton Burma tergolong segar. Selama bertahun-tahun, upaya di Everglades lebih berfokus pada volume tangkapan karena keterbatasan data demografis tiap individu.

WRI membuka jalan bagi penilaian yang lebih presisi, asalkan data lapangan soal ukuran, jenis kelamin, dan kondisi reproduksi ular tercatat konsisten. Tanpa pencatatan itu, bobot ekologis hanya jadi angka di atas kertas.

Ke depan, tim peneliti berharap alat ini dipakai rutin dalam evaluasi kontrak penyingkiran. Jika terbukti efektif menekan laju populasi, model serupa berpeluang diadopsi untuk spesies invasif lain di wilayah dengan tekanan ekologis sebanding.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top