MALUKU — Pengiriman diesel Rusia kembali mengalir ke Turki dan Brasil setelah Moskow melonggarkan larangan ekspor menyusul kesepakatan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Data pelayaran Kpler dan LSEG mencatat sedikitnya dua kapal tanker telah mengindikasikan tujuan ke kedua negara tersebut. Pasar bahan bakar Eropa sejauh ini belum menunjukkan reaksi signifikan terhadap kembalinya pasokan Rusia.
Kapal Leruo berangkat dari pelabuhan Primorsk di Laut Baltik pada 16 Oktober dengan tujuan Manaus, Brasil. Kapal Dolunay bertolak pada 14 Oktober menuju Alanya, Turki. Masing-masing kapal mengangkut sekitar 300.000 barel diesel, berdasarkan data pelayaran Kpler dan LSEG yang dikutip Reuters.
Maroko turut kembali mengimpor diesel Rusia. Sebuah tanker yang memuat sekitar 40.000 ton diesel dengan kandungan sulfur sangat rendah (ultra-low sulphur diesel) di Primorsk pada 13 Oktober dilaporkan menuju negara tersebut.
Sepanjang tahun ini, Turki menyerap sekitar 34% dari total pemuatan diesel Rusia. Brasil menyusul dengan porsi 24%, sedangkan Maroko mengambil sekitar 10% berdasarkan data Kpler.
Kepala Risiko Geopolitik Kpler Michelle Brouhard menilai kembalinya pasokan Rusia ke jalur perdagangan lama adalah langkah paling masuk akal pada tahap awal.
"Dengan pasokan Rusia yang kembali masuk, jalur perdagangan yang sudah mapan menjadi tujuan paling logis bagi minyak tersebut pada tahap awal," kata Brouhard dikutip dari Reuters, Jumat (23/10/2026).
Meski ekspor kembali bergerak, pasar bahan bakar Eropa belum menunjukkan reaksi berarti terhadap kembalinya pasokan Rusia. Belum ada indikasi perubahan harga atau arus impor yang mencolok di kawasan tersebut.
Pelonggaran larangan ekspor muncul setelah Moskow mencapai kesepakatan dengan Trump. Detail kesepakatan tidak dijelaskan dalam laporan tersebut, namun dampaknya langsung terlihat pada pola pengiriman kapal tanker.
Kembalinya diesel Rusia ke Turki, Brasil, dan Maroko menambah volume pasokan di pasar non-Eropa. Bagi pelaku bisnis energi, rute perdagangan yang sudah terbangun menjadi kanal distribusi utama pada fase awal pembukaan ekspor.
Data pemuatan kapal menjadi indikator awal yang dipantau analis untuk mengukur seberapa cepat Rusia memulihkan volume ekspor bahan bakarnya. Pemantauan berlanjut pada pengiriman berikutnya untuk melihat apakah tren ini berlanjut ke pasar lain.