MALUKU — PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) membukukan arus petikemas 15,45 juta TEUs sepanjang Januari–September 2026, naik 6,85 persen dari 14,46 juta TEUs pada periode sama tahun lalu. Pertumbuhan ini ditopang lonjakan petikemas internasional yang naik dua digit, di tengah upaya memperkuat konektivitas maritim dan daya saing logistik nasional.
Paragraf pembuka: Kinerja kepelabuhanan Pelindo sepanjang sembilan bulan pertama 2026 ditopang dua segmen sekaligus. Arus petikemas domestik maupun internasional sama-sama tumbuh, meski laju keduanya berbeda jauh. Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja IPC TPK, Novriansyah, menilai capaian itu perlu dibaca sebagai cermin dinamika logistik nasional, bukan sekadar angka volume bongkar muat.
Segmen internasional menjadi mesin utama pertumbuhan. Arus petikemas luar negeri naik dari 6,75 juta TEUs menjadi 7,43 juta TEUs, atau tumbuh sekitar 10,07 persen.
Sementara itu, petikemas domestik bergerak lebih moderat. Volumenya meningkat dari 7,71 juta TEUs menjadi 8,02 juta TEUs, tumbuh sekitar 4,02 persen.
“Pertumbuhan segmen internasional yang mencapai sekitar 10,07 persen memperlihatkan bahwa pelayanan pelabuhan memiliki keterkaitan erat dengan pergerakan perdagangan global,” ujar Novriansyah.
Menurut dia, kesiapan infrastruktur, kapasitas terminal, dan kualitas pelayanan harus terus diperkuat agar pelabuhan Indonesia mampu mengikuti kebutuhan perdagangan yang makin dinamis.
Meski tumbuh lebih lambat, segmen domestik dinilai tetap punya peran strategis. Arus petikemas antarpulau berkaitan langsung dengan distribusi barang antarwilayah dan pasokan kebutuhan industri maupun masyarakat.
“Arus petikemas domestik tetap menjadi bagian penting karena berkaitan langsung dengan distribusi barang antarpulau dan antarwilayah,” kata Novriansyah.
Dia menekankan konektivitas maritim nasional perlu dikembangkan melalui integrasi antarpelabuhan dari Sabang hingga Merauke. Ketersediaan pelabuhan saja tidak cukup tanpa keterhubungan layanan, kepastian jadwal, kesiapan fasilitas, dan koordinasi antarpelaku logistik.
Pertumbuhan volume menuntut pembenahan di sisi operasional. Novriansyah menyoroti transformasi digital sebagai bagian penting untuk mengintegrasikan proses pelayanan, memperbaiki koordinasi, dan meningkatkan kepastian waktu bongkar muat.
“Digitalisasi harus diarahkan pada kebutuhan operasional yang nyata. Sistem yang terintegrasi dapat membantu mempercepat pertukaran informasi, meningkatkan transparansi pelayanan, dan mengurangi hambatan dalam proses logistik,” ujarnya.
Peningkatan kapasitas terminal juga perlu disertai perencanaan kapasitas, kesiapan peralatan, dan kompetensi sumber daya manusia. Menurut dia, pertumbuhan volume harus diantisipasi agar pelayanan tidak tersendat.
Aspek keselamatan kerja tidak boleh dikorbankan. “Produktivitas dan keselamatan kerja tidak boleh dipertentangkan. Kinerja terminal yang baik harus dibangun melalui proses kerja yang aman, disiplin operasional, dan kepatuhan terhadap prosedur,” kata Novriansyah.
Capaian Pelindo muncul di tengah dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, ketika penguatan sektor logistik menjadi salah satu fokus pembangunan ekonomi. Infrastruktur kepelabuhanan berperan menjaga kelancaran perdagangan dan memperkuat konektivitas antardaerah.
Novriansyah menilai momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi logistik nasional. Pelabuhan punya posisi penting dalam mendukung perdagangan dan industrialisasi, sehingga peningkatan kapasitas harus dibarengi pelayanan efisien dan tata kelola operasional yang baik.
“Ukuran keberhasilan pelabuhan bukan hanya berapa banyak petikemas yang dapat ditangani, melainkan juga seberapa besar kontribusinya dalam memperlancar distribusi, menekan hambatan logistik, mendukung industri, dan memperkuat konektivitas nasional,” ujarnya.
Dengan arus petikemas yang sudah tumbuh 6,85 persen hingga September 2026, Pelindo menghadapi peluang sekaligus tantangan. Pengembangan infrastruktur, transformasi digital, peningkatan kompetensi pekerja, dan integrasi konektivitas maritim akan menentukan apakah pertumbuhan volume tahun ini berlanjut menjadi perbaikan daya saing logistik Indonesia secara menyeluruh.