Siswa SMKN 11 Seram Bagian Barat Bawa Pulang Perunggu FIKSI Nasional 2026 Lewat Produk Sasagu dari Limbah Sagu

Penulis: Ramli Siregar  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:46:01 WIB
Siswa SMKN 11 Seram Bagian Barat mengembangkan produk Sasagu berbahan limbah sagu menjadi briket penyerap bau dan kelembapan.

AMBON — Febby Nisitrince Panggulili dan Jevincha Meiland De Queljoe mengembangkan Sasagu dengan memanfaatkan limbah sagu menjadi briket penyerap bau dan kelembapan. Produk itu dirancang untuk ditempatkan di dalam sepatu, tas, maupun helm.

Keduanya merupakan bagian dari lima tim sekolah binaan Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA MDR) yang lolos ke babak final FIKSI Nasional 2026. Dari lima tim tersebut, empat tim berhasil membawa pulang medali: satu emas, dua perak, dan satu perunggu.

Limbah Sagu Diolah Jadi Briket Penyerap Bau dan Kelembapan

Bahan baku Sasagu berasal dari ampas sagu yang selama ini jarang dimanfaatkan. Melalui proses pengolahan, limbah tersebut dibentuk menjadi briket yang mampu menyerap aroma tidak sedap sekaligus mengurangi kelembapan di ruang tertutup.

Pendekatan itu sejalan dengan semangat FIKSI yang mendorong siswa mengangkat potensi daerah menjadi produk bernilai tambah. Sasagu tidak hanya menjawab persoalan bau dan kelembapan, tetapi juga memberi nilai ekonomi pada limbah yang sebelumnya terbuang.

Medali Emas dan Perak Juga Dibawa Tim Binaan YPA MDR

Pencapaian terbaik diraih Carli Mayos Talan dan Gabriella Gwuen Radjah dari SMKN 1 Pandawai, Nusa Tenggara Timur. Keduanya menyabet emas lewat inovasi Net Green pada kategori Rencana Usaha bidang Agribisnis, Agroteknologi, dan Kemaritiman.

Net Green berupa jaring ikan dengan pewarna alami dari daun jati. Warna tersebut dirancang agar jaring berkamuflase di dalam air sehingga tidak mudah terlihat oleh ikan.

Dua medali perak masing-masing diraih Reno Hartanto Sudiwo dan Afinsa Oktafiani dari SMKN 1 Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, melalui Biomolic. Cairan berbahan limbah rumah tangga itu difungsikan sebagai pupuk, pestisida alami, dan aktivator kompos.

Perak kedua datang dari Claudensius Bangun Syahputra dan Ferdi Ahmad Farobbi, siswa SMKN 1 Pandak, Daerah Istimewa Yogyakarta. Produk mereka, Bionusa Grow, memakai limbah ikan, udang, dan eceng gondok sebagai bahan pupuk tiga fungsi untuk mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus memperbaiki kualitas tanah.

Spiduks dari Daun Kusambi, Jawaban atas Kendala Logistik di Rote Ndao

Satu tim finalis lain, Liana Christine Tamelan dan Nova Aranci Mbate dari SMAN 1 Rote Barat, Nusa Tenggara Timur, memperkenalkan Spiduks. Produk itu berupa spidol berbahan daun kusambi yang dikembangkan sebagai alternatif pemanfaatan bahan lokal.

Inovasi tersebut menyasar kendala distribusi logistik di Rote Ndao yang kerap membuat kebutuhan alat tulis sulit terpenuhi. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar, Spiduks menawarkan jalan keluar yang lebih dekat dengan warga.

Ketua YPA MDR Sebut Prestasi Ini Buah Kerja Keras Siswa dan Guru

Ketua Pengurus Yayasan Astra–YPA MDR Gunawan Salim menyampaikan apresiasi atas semangat para siswa dalam mengembangkan gagasan inovatif hingga mampu bersaing di tingkat nasional.

"Kami bangga melihat semangat dan keberanian para siswa dalam mengembangkan ide-ide kreatif hingga mampu meraih prestasi di tingkat nasional. Di balik pencapaian ini, ada proses belajar, kerja keras, serta dukungan para guru dan pembimbing yang terus mendampingi mereka," ujarnya.

Gunawan berharap pengalaman bertanding di FIKSI menjadi bekal bagi para siswa untuk terus berinovasi, percaya pada kemampuan diri, dan menciptakan peluang usaha yang bermanfaat bagi masyarakat.

FIKSI Jadi Ajang Latihan Strategi Bisnis bagi Siswa SMA dan SMK

FIKSI merupakan kompetisi nasional bagi siswa SMA dan SMK untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, serta jiwa kewirausahaan. Ajang ini terbagi dalam kategori Rencana Usaha dan Pengembangan Usaha.

Melalui kompetisi tersebut, siswa didorong mengembangkan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah. Peserta juga dilatih menyusun strategi bisnis, bekerja sama dalam tim, dan mempresentasikan gagasan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Yayasan Astra–YPA MDR didirikan PT Astra International Tbk untuk mendukung tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan, khususnya di daerah tertinggal dan strategis. Saat ini yayasan tersebut membina 200 sekolah negeri di sembilan provinsi dan 19 kabupaten, mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA/SMK.

Pembinaan dijalankan melalui empat pilar, yakni karakter, akademik, kecakapan hidup, serta seni dan budaya. Prestasi di FIKSI Nasional 2026 menjadi salah satu hasil dari pendampingan tersebut.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: malukupost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top