MALUKU — Kelompok peretas Korea Utara, Lazarus Group, diidentifikasi dengan tingkat keyakinan tinggi sebagai dalang pencurian USD 6,3 miliar atau setara Rp 114 triliun dari bursa kripto Binance. TRM Labs dan Chainalysis menyebut data intelijen blockchain mengarah ke unit yang juga dikenal sebagai TraderTraitor tersebut. Jika terbukti, ini menjadi salah satu peretasan aset digital terbesar dalam sejarah.
Peretasan terhadap Binance terungkap bukan sekadar insiden keamanan biasa. Binance sempat menduga hanya laptop seorang insinyur yang diretas, sehingga memungkinkan penarikan dana tanpa izin. Belakangan, bursa kripto terbesar dunia itu mengakui skala serangan jauh lebih luas dari perkiraan awal.
Menurut Binance, sekitar 80% aset yang dicuri berhasil diamankan. Sisanya masih belum terlacak hingga kini.
Agen Korea Utara dituduh menggunakan otorisasi khusus untuk mengubah hot wallet milik Binance. Dompet digital yang terhubung ke internet itu diubah menjadi sistem yang otomatis memindahkan dana ke pihak penyerang.
TRM menyatakan pelaku kemungkinan besar berhasil meretas masuk ke sistem otorisasi hot wallet Binance sebagai bagian dari skema tersebut. Analisis itu diperkuat temuan Chainalysis yang menuding Grup Lazarus berada di balik operasi ini.
Korea Utara termasuk negara termiskin dengan akses internet sangat terbatas. Para ahli menuding pemerintahan Kim Jong Un mengandalkan kejahatan siber untuk membiayai negara, tuduhan yang selama ini dibantah Pyongyang.
Berbagai laporan menyebut operasi siber Korea Utara dikembangkan secara sistematis. Mahasiswa paling berprestasi dari berbagai universitas direkrut, lalu disalurkan ke kelompok hacker yang diawasi badan intelijen.
Analisis sejumlah grup teknologi bahkan menemukan sebagian operasi perang siber dijalankan tepat di seberang perbatasan, yakni di China. Mayoritas aktivitas peretasan berfokus pada keuntungan finansial.
Peretasan paling spektakuler yang diduga dilakukan Korea Utara terjadi pada 2014. Targetnya Sony Pictures, studio yang memproduksi film The Interview, cerita tentang rencana pembunuhan Kim Jong Un.
Aksi itu membocorkan ribuan email memalukan jajaran eksekutif puncak Sony Pictures. Meski tak bermotif finansial, insiden tersebut menunjukkan jangkauan operasi siber Korea Utara.
Ahli menyebut kemajuan AI memberi cara baru bagi para hacker untuk beraksi, baik melalui otomatisasi maupun metode lain. Dalam kasus Binance, penggunaan AI untuk menyusup ke sistem dinilai masuk akal.
Jika tuduhan terhadap Grup Lazarus benar, pencurian yang memecahkan rekor ini menunjukkan betapa kuatnya kemampuan hacker Korea Utara saat ini. Bagi pengguna kripto di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa risiko penyimpanan aset di hot wallet bursa tetap nyata, sekalipun platformnya berskala global.