AMBON — Perum Bulog Kantor Wilayah Maluku dan Maluku Utara resmi memanfaatkan gudang milik Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah untuk menampung hasil panen petani. Gudang yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan di kawasan Kobisonta itu memiliki kapasitas sekitar 1.000 ton dan dinilai strategis karena dekat dengan wilayah produksi padi.
Manajer Supply Chain sekaligus Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Kanwil Maluku dan Maluku Utara, Abdul Azis, mengatakan pemanfaatan gudang ini merupakan tindak lanjut kerja sama dengan Pemkab Maluku Tengah yang ditandatangani pada 17 Agustus 2026.
Gudang Kosong Jadi Solusi Saat Produksi Petani Meningkat
Azis menjelaskan, sejumlah gudang milik Pemkab Maluku Tengah selama ini masih kosong dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, beberapa di antaranya berada dekat dengan sentra produksi pertanian. Gudang di Kobisonta bahkan disebutnya sudah lengkap dengan sarana pendukung, termasuk rumah jaga.
"Apalagi gudang tersebut lengkap dengan sarananya, bahkan rumah jaga juga sudah ada," ujarnya di Ambon, Kamis.
Keterbatasan gudang memang menjadi tantangan klasik dalam penyerapan hasil pertanian, terutama ketika produksi petani sedang tinggi. Dengan adanya kerja sama ini, Bulog bisa menampung hasil produksi di kawasan sekitar yang mencapai sekitar 5.000 ton gabah kering panen. Seluruh produksi tersebut telah diserap oleh Bulog.
Jagung Juga Masuk Gudang, Distribusi Beras Bakal Lebih Dekat
Maluku Tengah tidak hanya dikenal sebagai sentra padi. Produksi jagung di kabupaten ini juga cukup besar. Bulog Maluku saat ini telah menyerap sekitar 30 ton jagung dari petani dan sebagian hasilnya masih tersimpan di gudang milik Pemkab Maluku Tengah.
"Dengan adanya kerja sama ini sangat membantu Bulog dalam penyediaan gudang untuk menampung hasil produksi, termasuk hasil panen jagung," kata Azis menambahkan.
Pemanfaatan gudang pemerintah daerah ini tidak hanya untuk menyerap hasil petani. Bulog juga berencana menjadikannya sebagai titik distribusi beras. Dengan begitu, rantai distribusi bisa lebih pendek dan harga beras Bulog lebih terjangkau masyarakat.
"Di samping untuk menyerap hasil petani, kita juga akan memanfaatkan sebagai gudang pendistribusian supaya keterjangkauan masyarakat terhadap beras Bulog lebih baik sehingga distribusi lebih dekat," ucap Azis.
Dua Gudang Lain di Masohi Segera Dibahas Secara Teknis
Bulog tidak berhenti di Kobisonta. Azis mengaku pihaknya juga mengidentifikasi sejumlah gudang kosong lainnya di Kota Masohi yang berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung penyerapan dan distribusi pangan. Gudang-gudang tersebut antara lain milik Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Maluku Tengah.
"Dalam waktu dekat kita akan membicarakan secara teknis guna pemanfaatan gudang tersebut," ungkapnya.
Azis berharap kerja sama dengan pemerintah daerah dapat terus dikembangkan. Pemanfaatan aset daerah yang belum optimal ini dinilai bisa memberikan manfaat ganda: membantu petani menyalurkan hasil panen sekaligus memperkuat ketersediaan dan distribusi pangan di Maluku.