AMBON — Ruas jalan penghubung Ahuru–Arbes di Kota Ambon resmi diblokir warga dengan cara dibeton, Rabu (26/8/2026). Puluhan warga RT 12/RW 17, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, menyegel badan jalan yang selama hampir 10 tahun dibiarkan rusak tanpa perbaikan berarti.
Aksi ini bukan sekadar penutupan akses. Warga sengaja menjadikan titik di dekat TPS Arbes sebagai lokasi pengecoran agar pemerintah melihat langsung kondisi infrastruktur yang menjadi urat nadi mobilitas warga.
Bukan Protes Pertama, Janji Perbaikan Tak Kunjung Nyata
Koordinator Lapangan aksi, Husain Latuconsina, menegaskan bahwa pemblokiran ini merupakan puncak kesabaran warga. Kerusakan di ruas jalan tersebut sudah berlangsung lama dan telah berulang kali disuarakan.
“Kerusakan di ruas jalan ini sudah berlangsung hampir 10 tahun dan tak kunjung mendapat perhatian. Karena itu, warga bersepakat membeton jalan sebagai bentuk desakan kepada pemerintah,” ujar Husain saat ditemui di lokasi.
Warga mengaku sudah berkali-kali menyampaikan tuntutan perbaikan melalui berbagai jalur. Namun, hingga hari ini, tidak ada tindak lanjut konkret yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pengguna jalan.
Jalan Rusak Jadi Penghambat Aktivitas Warga dan Akses TPS
Kondisi jalan yang berlubang dan rusak parah selama bertahun-tahun dinilai mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial warga. Ruas ini merupakan akses utama yang menghubungkan permukiman Ahuru dengan kawasan Arbes.
Lokasi pemblokiran yang dipilih warga tepat di samping TPS Arbes menjadi simbolis. Warga ingin menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan infrastruktur di kawasan itu kerap terabaikan, meski menjadi pemandangan sehari-hari bagi aparat yang melintas.
Dengan dibetonnya jalan, akses kendaraan menuju TPS dan permukiman di sekitarnya untuk sementara lumpuh. Warga menyatakan aksi ini akan bertahan sampai ada kepastian penanganan dari Pemerintah Kota Ambon.
Apa Langkah Pemkot Ambon Selanjutnya?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Ambon maupun pihak kelurahan terkait langkah respons atas aksi warga ini.
Pemblokiran jalan dengan cara dibeton ini menjadi catatan kritis bagi pemkot. Jika tidak segera direspons dengan solusi nyata, potensi aksi serupa di titik-titik lain yang juga memiliki keluhan infrastruktur bisa saja menyusul.
Warga berharap pengecoran yang mereka lakukan secara mandiri ini menjadi alarm terakhir bagi pemerintah untuk merealisasikan perbaikan jalan Ahuru–Arbes secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam.