AMBON — Sebuah artikel yang ditulis jurnalis Sophie Bagheri untuk YourTango menggarisbawahi bahwa wanita dengan gaya keterikatan yang sehat dan tingkat kepercayaan tinggi pada pasangannya tidak perlu meminta hal-hal yang sejatinya merupakan kebutuhan dasar dalam pernikahan. Hal ini bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena keyakinan dan rasa percaya yang kuat telah menghilangkan dasar bagi tuntutan tersebut.
“Wanita yang merasa aman dalam pernikahannya dan mempercayai pasangannya tidak perlu meminta hal-hal yang sudah menjadi kebutuhan dasar,” demikian disampaikan dalam artikel tersebut.
Pernyataan Itu Berlaku di Ambon?
Di tengah budaya Maluku yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, pernyataan ini relevan untuk direnungkan. Berbeda dengan mereka yang mungkin memiliki kurangnya kepercayaan diri dalam hubungan, sehingga seringkali merasa perlu untuk menuntut berbagai hal, wanita yang telah memiliki fondasi aman justru lebih fokus pada kualitas kebersamaan.
Sophie Bagheri, penulis artikel tersebut, merupakan seorang jurnalis dengan gelar sarjana bahasa Inggris dan teater yang fokus pada topik gaya hidup. Ia menyoroti bahwa rasa aman secara emosional menjadi kunci utama yang mengubah dinamika permintaan dalam rumah tangga.
Bukan Soal Materi, Tapi Soal Kehadiran
Pergeseran paradigma ini penting dipahami pasangan di Maluku. Tuntutan yang seringkali muncul—baik itu soal waktu bersama, bantuan pekerjaan rumah, atau bahkan hal-hal materi—sebenarnya hanyalah gejala dari ketidakamanan yang mendasar. Ketika kepercayaan sudah terbangun utuh, kebutuhan untuk "menagih" hal-hal tersebut menjadi tidak relevan.
Inti dari hubungan yang sehat bukanlah pada daftar permintaan yang harus dipenuhi. Justru, rasa aman yang terjaga akan membuat seorang wanita merasa cukup dan tenang, sehingga energi dalam pernikahan bisa dialihkan untuk hal-hal yang lebih produktif dan membahagiakan. Hal ini menjadi catatan bagi pasangan di Kota Ambon dan sekitarnya untuk terus menumbuhkan rasa saling percaya, bukan sibuk menuntut.