Makan Patita yang menyatukan warga Negeri Galala dan Hative Kecil di Kota Ambon kembali digelar dengan 50 tapalang dari gaba-gaba membentang sekitar 100 meter. Tradisi makan bersama itu menjadi bagian dari perayaan satu abad Jemaat Galala-Hative Kecil (Gatik) sekaligus momentum Pemerintah Kota Ambon mendorong pelestarian budaya orang basudara. Plt. Asisten II Setda Kota Ambon Rustam Simanjuntak menyebut tradisi ini bukan sekadar makan bersama, melainkan alat pemersatu dua negeri.
AMBON — Makan Patita yang menyatukan warga Negeri Galala dan Hative Kecil di Kota Ambon digelar dengan 50 tapalang dari gaba-gaba membentang sekitar 100 meter. Tradisi makan bersama itu menjadi bagian dari rangkaian perayaan satu abad Jemaat Galala-Hative Kecil (Gatik) sekaligus momentum Pemerintah Kota Ambon untuk terus mendorong pelestarian budaya orang basudara. Kegiatan berlangsung di Ambon, Kamis.
Rustam Simanjuntak menegaskan bahwa Makan Patita mengandung nilai sosial dan budaya yang mempererat hubungan antarwarga. Ia menyebut tradisi ini menjadi perekat yang menyatukan masyarakat dalam satu persekutuan.
"Makan patita adalah salah satu alat budaya yang menyatukan masyarakat yang juga adalah jemaat. Khususnya di Galala-Hative Kecil yang adalah dua negeri, satu jemaat," kata Rustam saat menghadiri kegiatan di Ambon, Kamis.
Makna di Balik Susunan 50 Tapalang
Tapalang yang digunakan dalam kegiatan ini dibuat dari gaba-gaba atau daun sagu kering. Sebanyak 50 tapalang disusun memanjang sehingga panjang keseluruhan mencapai sekitar 100 meter.
Susunan yang membentang itu menjadi gambaran nyata kebersamaan. Warga dari kedua negeri duduk bersisian dalam satu barisan yang sama, tanpa sekat, saat menyantap hidangan yang disajikan bersama.
Satu Abad Bukan Perjalanan Singkat
Usia Jemaat Gatik yang menginjak satu abad menjadi penanda bahwa Galala dan Hative Kecil telah dipersatukan dalam satu persekutuan dalam waktu yang panjang. Rustam menilai ikatan semacam ini langka dan patut dijaga.
"Galala-Hative Kecil ini contoh nyata orang basudara yang diikat dalam satu jemaat. Ini patut dijaga dan dicontohi," ujarnya.
Ia berharap nilai persaudaraan, kebersamaan, dan gotong royong yang telah diwariskan selama satu abad terus dipelihara. Menurut Rustam, generasi muda menjadi kunci agar tradisi ini tidak putus di tengah perubahan zaman.
Raja Hative Kecil: Perlu Digelar Lebih Sering
Raja Negeri Hative Kecil Josias Muryani menyampaikan hal senada. Ia menilai Makan Patita tidak boleh berhenti pada perayaan besar semata, melainkan perlu dihadirkan dalam momentum-momentum kebersamaan lainnya.
"Makan patita harus sering dibuat agar terus mengikat dua negeri ini dalam satu ikatan keluarga," katanya.
Kegiatan Makan Patita ini melibatkan masyarakat dari kedua negeri secara langsung. Selain memperlihatkan semangat gotong royong, tradisi ini menjadi bagian utuh dari rangkaian syukur satu abad Jemaat Gatik sekaligus pengingat bahwa hubungan orang basudara di Ambon tetap hidup dari generasi ke generasi.