MALUKU — Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan menyampaikan keluhan ini melalui pesan singkat, Selasa (16/4). Menurutnya, kesulitan mendapatkan solar tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga mulai terasa di Pulau Jawa yang menjadi pusat kegiatan ekonomi nasional.
"Saat ini, kesulitan BBM solar didapati di SPBU daerah-daerah, bahkan di Pulau Jawa pun mulai sulit setelah beberapa saat yang lalu 'agak' kondusif," ujar pria yang akrab disapa Sani tersebut.
Antrean Berjam-jam Ancam Keselamatan Awak Bus
Sani menjelaskan, situasi ini berbeda dengan gangguan operasional akibat erupsi Anak Krakatau yang tidak memengaruhi jadwal. Justru kelangkaan solar yang membuat pengemudi harus antre berjam-jam hingga semalaman untuk mengisi tangki.
Kondisi ini dinilainya menjadi potensi kecelakaan baru di jalan raya. Awak kendaraan yang kelelahan karena mengantre BBM berisiko mengalami microsleep atau kehilangan konsentrasi saat mengemudi.
"Ini juga yang bisa dijadikan alasan oknum pada saat kecelakaan, kelelahan karena antre BBM berjam-jam bahkan semalaman menyebabkan kurang istirahat," ungkap Sani.
Perawatan Rutin Bus Terabaikan
Dampak lain yang tidak kalah penting adalah terganggunya jadwal perawatan kendaraan. Bus yang seharusnya masuk bengkel untuk servis berkala terpaksa ditunda karena harus tetap beroperasi melayani penumpang.
Padahal, perawatan rutin merupakan faktor krusial untuk menjaga kelayakan jalan kendaraan umum. Jika diabaikan, risiko kegagalan fungsi komponen seperti rem atau ban bisa meningkat secara signifikan.
Penumpang Mulai Keluhkan Keterlambatan
Sani menambahkan, keresahan penumpang sudah mulai terlihat di media sosial. Banyak keluhan mengenai keterlambatan jadwal keberangkatan bus yang disebabkan ketidakpastian waktu antre BBM di SPBU.
Kelangkaan solar subsidi ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, fenomena serupa sempat memicu antrean panjang di berbagai daerah dan menjadi sorotan publik karena berdampak luas pada distribusi logistik dan mobilitas masyarakat.