DOBO — Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, mengajak warga untuk menjadikan aksi penanaman pohon mangrove sebagai gerakan berkelanjutan, bukan sekadar acara seremonial. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove yang digelar Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Siloam di Kepulauan Aru, Sabtu (16/5/2026).
Bupati Kaidel mengapresiasi inisiatif AMGPM Cabang Siloam yang dinilainya sebagai langkah konkret membangun kesadaran kolektif masyarakat. Menurutnya, penanaman mangrove menjadi bagian penting dari upaya mencegah abrasi akibat gelombang laut saat musim ombak.
"Aksi penanaman pohon mangrove ini bagian dari menjaga lingkungan pantai guna mencegah abrasi dari gelombang laut ketika musim ombak," kata Bupati seperti dikutip dari Times Maluku.com.
Bupati menegaskan bahwa konsep "berkelanjutan" harus dimaknai dengan tindakan nyata berupa perawatan dan pengawasan terhadap pohon yang telah ditanam. Ia mengingatkan agar kegiatan tidak berhenti pada seremoni semata.
"Kalau bicara berkelanjutan, berarti kita harus terus menjaga, merawat, dan mengampanyekan pentingnya lingkungan hidup," katanya.
Menurut Bupati, menjaga lingkungan harus dimulai dari generasi muda agar menjadi budaya dan karakter masyarakat sejak dini. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Aru sejak dahulu hidup bergantung pada alam sehingga wajib menjaga kelestariannya demi masa depan generasi berikut.
"Orang Aru hidup bergantung pada alam. Kalau kita hidup dari alam tetapi tidak menjaganya, lalu apa yang kita harapkan untuk masa depan? Alam yang kita jaga akan terus memberi kehidupan bagi kita," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti dampak eksploitasi lingkungan seperti pengambilan pasir pantai, batu, hingga terumbu karang yang dapat merusak ekosistem pesisir. Pemerintah daerah kini mendorong konsep pembangunan ramah lingkungan dengan penggunaan material alternatif agar kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi.
"Kita harus mulai mengubah cara berpikir. Membangun itu harus murah, cepat, kuat, tetapi juga ramah lingkungan. Jangan lagi bergantung pada material yang merusak alam seperti terumbu karang dan pasir pantai," tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru berencana menggelar musyawarah adat bersama kepala desa, tokoh adat, dan tokoh masyarakat dari 117 desa. Langkah ini diambil guna memperkuat kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup.
Bupati berharap gerakan yang diinisiasi AMGPM Cabang Siloam dapat menjadi contoh bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga alam Aru. "Kalau kita semua bergerak bersama menjaga alam, berarti kita sedang menunjukkan niat baik untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mewariskan lingkungan yang sehat bagi anak cucu kita," tutupnya.