Mitsubishi akhirnya mengumumkan mobil listrik perdana mereka untuk pasar global, dan namanya langsung memicu nostalgia. Bukan Eclipse Cross versi listrik, juga bukan sports car dua pintu yang ikonik di era 90-an. Yang diperkenalkan adalah Eclipse Sportback EV 2027, sebuah crossover listrik yang—diakui sendiri oleh Mitsubishi—berbagi DNA dengan Nissan Leaf.
Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi memang sudah lama dikenal saling meminjam platform. Tapi kali ini, Mitsubishi terang-terangan mengakui bahwa Eclipse Sportback EV pada dasarnya adalah Nissan Leaf dengan gaya eksterior yang diubah. Dari segi proporsi, garis atap, hingga detail lampu, kemiripannya sulit disembunyikan.
Strategi ini bukan tanpa alasan. Mengembangkan mobil listrik dari nol membutuhkan biaya miliaran dolar. Dengan memanfaatkan platform Leaf yang sudah matang, Mitsubishi bisa meluncurkan EV perdananya lebih cepat dan dengan harga yang lebih kompetitif. Bagi perusahaan yang selama ini mengandalkan Outlander PHEV sebagai ujung tombak elektrifikasi, langkah ini adalah jalan tengah yang realistis.
Ini adalah kali ketiga Mitsubishi menggunakan nama Eclipse. Pertama sebagai coupe sporty (1989-2011), lalu sebagai crossover Eclipse Cross (2017), dan kini sebagai hatchback listrik. Keputusan ini jelas untuk memanfaatkan nilai nostalgia—terutama di pasar Amerika Utara di mana Eclipse asli masih punya basis penggemar fanatik.
Tapi jangan berharap performa seperti versi turbo-nya dulu. Eclipse Sportback EV hadir sebagai kendaraan harian yang efisien, bukan mobil performa. Mitsubishi sepertinya sadar bahwa nama besar saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini: SUV listrik yang praktis dan terjangkau.
Hingga saat ini, Mitsubishi Indonesia belum memberikan pernyataan resmi soal kehadiran Eclipse Sportback EV di dalam negeri. Namun, melihat tren elektrifikasi yang mulai bergerak di Indonesia—dengan insentif PPnBM 0% untuk mobil listrik—bukan tidak mungkin model ini masuk dalam rencana jangka panjang.
Yang menjadi pertanyaan adalah positioning harga. Nissan Leaf yang dijual di Indonesia saat ini dibanderol sekitar Rp 700 jutaan. Jika Eclipse Sportback EV benar-benar menggunakan basis yang sama, Mitsubishi harus pintar membedakan harga dan fitur agar tidak saling memakan pasar saudaranya sendiri.
Yang menarik, Mitsubishi tidak menyembunyikan fakta bahwa mobil ini adalah hasil kolaborasi internal. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut desainnya "terinspirasi oleh sinergi aliansi." Bahasa halus yang artinya: ini Leaf dengan baju baru.
Eclipse Sportback EV menandai awal baru bagi Mitsubishi yang selama ini tertinggal dalam perlombaan mobil listrik murni. Sementara kompetitor seperti Hyundai, Kia, dan Toyota sudah memiliki jajaran EV yang lengkap, Mitsubishi baru sekarang meluncurkan yang pertama.
Langkah berbagi platform dengan Nissan memang masuk akal secara bisnis. Tapi pertanyaan besarnya adalah: apakah konsumen akan menerima mobil yang secara teknis identik dengan Leaf hanya dengan logo berbeda? Atau justru sebaliknya—Mitsubishi bisa menarik pelanggan yang tidak tertarik dengan desain Leaf yang kontroversial?
Jawabannya baru akan terlihat saat mobil ini mulai dijual di tahun 2027. Satu hal yang pasti: nama Eclipse kembali bergema, meskipun dalam wujud yang sangat berbeda dari pendahulunya.