BURU — Penemuan ini sekaligus mematahkan kekhawatiran para ahli yang sempat menganggap spesies tersebut telah punah. Sebelumnya, nuri dahi biru hanya tercatat dalam catatan ilmiah pada 1920-an dari tujuh spesimen, dan nyaris tak pernah terlihat secara langsung selama hampir satu abad. Kemunculan terakhir yang tercatat sebelum ekspedisi ini adalah pada 2014.
Tim ekspedisi menyusuri lanskap terpencil Pulau Buru selama dua pekan penuh. Perjalanan berat itu akhirnya terbayar lunas saat mereka berhasil menyaksikan dan mendokumentasikan burung berukuran kecil tersebut di habitat aslinya.
"Saat kami melihat burung nuri dahi biru, saya tidak bisa menahan air mata," ujar Sumaraja, pemandu sekaligus pemimpin tur Birdtour Asia. Momen itu menjadi titik kulminasi dari kerja keras tim yang berlangsung di medan yang sulit dijangkau.
Nuri dahi biru memiliki ciri fisik yang khas: bulu hijau limau yang menyala, paruh berwarna oranye, mahkota belakang biru, serta ekor yang runcing. Spesies ini merupakan burung endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Buru, Maluku. Setelah deskripsi ilmiah pertamanya pada era 1920-an, burung ini praktis lenyap dari radar para peneliti dan pengamat burung.
Ekspedisi ini merupakan hasil kolaborasi antara komunitas lokal Kanal Buru, organisasi konservasi internasional American Bird Conservancy, agen perjalanan birdwatching Birdtour Asia, dan Yayasan Planet Indonesia. Keterlibatan pemandu lokal menjadi faktor krusial karena pengetahuan mereka tentang medan dan perilaku satwa di Gunung Kapalatmada.
Penemuan ini diharapkan membuka jalan bagi upaya konservasi yang lebih serius terhadap habitat nuri dahi biru. Para peneliti kini memiliki data visual dan dokumentasi terbaru untuk mempelajari populasi serta perilaku spesies langka tersebut.