TIAKUR — Kelangkaan BBM jenis Pertamax melanda wilayah Maluku Barat Daya akibat cuaca buruk yang berkepanjangan. Kondisi ini memicu lonjakan harga di tingkat pengecer hingga menyentuh angka fantastis, Rp 100.000 untuk satu botol air kemasan 150 mililiter.
Johan, seorang warga Tiakur, mengungkapkan harga tersebut sudah bertahan selama dua pekan terakhir. Ia menjelaskan, jatah BBM yang tersedia di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tidak sebanding dengan jumlah kendaraan di kota tersebut.
"Pas bongkar langsung habis dan itu pun sebagian besar kuota untuk pemda. Ketika cuaca ekstrim kapal tidak berlayar, Pertamax dijual 100 ribu per botol," kata Johan kepada Siwalima, kemarin.
Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya memastikan bantuan BBM tengah dalam perjalanan. Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam (EKSDA) MBD, Imanuel Maupula, menyebut kapal pengangkut telah berangkat dari Ambon menuju Pulau Moa.
"Direncanakan tiba di Moa pada 26 Juni, namun apabila terkendala cuaca maka bisa diperkirakan tiba di Moa pada hari Sabtu atau hari Minggu," jelas Imanuel saat dikonfirmasi, Rabu (24/6).
Sebanyak 160 ton Pertamax akan didistribusikan ke tiga SPBU. Rinciannya, 50 ton untuk SPBU Tribers, 80 ton untuk SPBU Sumber Mas Moa, dan 30 ton untuk SPBU Berkat Pertama di Pulau Letti.
Imanuel berharap cuaca segera membaik agar kapal bisa merapat lebih cepat. Ia menegaskan kelangkaan ini bukan kesengajaan, melainkan akibat kondisi alam yang tak bisa diprediksi.
"Semoga cuaca membaik agar BBM lebih cepat tiba Moa untuk mengatasi kelangkaan. Saya mengharapkan pengertian baik dari masyarakat karena kelangkaan ini bukan disengajakan tapi ini karena kondisi cuaca," pintanya.