MALUKU — Skema Baru dan Dampaknya bagi Petani
Kenaikan margin fee ini bukan sekadar penyesuaian angka. Dalam beleid baru tersebut, formula penghitungan margin kini berbasis biaya riil pengadaan dalam negeri dan biaya kemasan, dikurangi hasil penjualan produk samping, lalu dibagi kuantum pengadaan setara beras. Hasilnya kemudian dikalikan 7 persen sebagai nominal margin yang diterima Bulog.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyambut positif kebijakan ini. Ia menilai insentif tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah atas kinerja Bulog dalam mendukung program swasembada pangan.
“Intinya dengan diberikan kenaikan margin fee jadi 7 persen, itu merupakan penghargaan dari pemerintah. Ini kan reward dari pemerintah karena Bulog mendukung keberhasilan pemerintah memperkuat swasembada pangan,” ujar Rizal, Kamis (6/8/2026).
Dengan ruang fiskal yang lebih longgar, Bulog disebut memiliki kapasitas lebih besar untuk menyerap gabah petani. Perusahaan pelat merah ini juga mendapat keringanan biaya operasional, terutama dari sisi pembiayaan perbankan.
Beban Bunga Turun, Kualitas Stok Ditingkatkan
Selain margin yang naik, struktur pembiayaan penugasan juga mengalami perbaikan signifikan. Rizal mengungkapkan suku bunga pinjaman bank untuk operasional Bulog turun dari 8 persen menjadi 5 persen. Dari angka tersebut, Bulog hanya menanggung 3 persen, sementara 2 persen sisanya disubsidi pemerintah.
“Itu kan syukur sekali, kita bersyukur sekali,” ungkapnya.
Efisiensi biaya ini menjadi krusial di tengah target penyerapan yang terus dinaikkan. Hingga awal Agustus 2026, realisasi penyerapan gabah setara beras telah mencapai 3,5 juta ton, mendekati target 4 juta ton hingga akhir tahun. Bulog berkomitmen memutar kembali tambahan margin untuk menjaga mutu stok.
“Kami akan meningkatkan pemeliharaan dan perawatan beras-beras Bulog sehingga beras yang disalurkan kepada rakyat adalah beras yang terbaik dan berkualitas,” pungkas Rizal.
Stok Aman Hingga 10 Bulan ke Depan
Kebijakan ini hadir di tengah kondisi pasokan pangan nasional yang solid. Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, memastikan cadangan beras yang dikelola pemerintah bersama sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) mencapai total 26 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan nasional untuk 10 bulan ke depan.
“Kami laporkan pangan kita aman. Standing crop stock kita di Horeka dan standing crop tambah Bulog, itu totalnya 26 juta ton, itu setara 10 bulan,” ujar Amran di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Amran membandingkan kondisi ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, stok di gudang Bulog sempat berada di kisaran 1 juta ton bahkan pernah menyentuh 500 ribu ton. Kini posisinya jauh lebih kuat.
“Jadi sudah overlap, aman, insya Allah. Stok kita dulu 2023, kalau tidak salah itu 1 jutaan stok kita. Bahkan pernah 500 ribu stok kita di gudang, sekarang 5 juta,” jelasnya.
Dengan kombinasi margin fee baru, bunga pinjaman yang lebih murah, dan stok yang melimpah, pemerintah optimistis menjaga stabilitas harga beras hingga musim panen berikutnya. Regulasi anyar ini juga menjadi dasar hukum yang lebih jelas bagi Bulog dalam menjalankan penugasan publik, menggantikan aturan sebelumnya yang belum mengatur mekanisme penghitungan margin secara rinci.