AMBON — Rencana pembentukan pusat unggulan itu disambut langsung oleh Rektor Unpatti, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd. Menurutnya, kolaborasi ini merupakan implementasi nyata model kerja sama pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
“Universitas Pattimura memiliki 21 pusat kajian yang siap mendukung berbagai kebutuhan penelitian dan pengkajian sehingga program-program yang direncanakan dapat berjalan secara optimal,” ujar Rektor dalam keterangan yang diterima Terasmaluku.com, Rabu (24/6).
Koordinator PT. Hatfield Indonesia LCDI Wilayah Maluku, Nita Yohana, menjelaskan bahwa CoE nantinya akan menjadi pusat data dan pusat informasi. Fungsinya untuk memudahkan OPD di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dalam mengakses hasil kajian yang dibutuhkan untuk perencanaan dan pengambilan kebijakan.
“Pada periode 2026–2027, kami memandang penting untuk meningkatkan kapasitas lokal di Provinsi Maluku. Karena itu, Center of Excellence menjadi instrumen strategis,” jelas Nita.
Selama dua tahun terakhir, tim LCDI bersama PT. Hatfield Indonesia telah melaksanakan berbagai kegiatan di Maluku. Salah satu hasilnya adalah penyusunan dokumen Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) yang melibatkan akademisi dan pemangku kepentingan daerah.
Dokumen tersebut menjadi landasan bagi pembentukan CoE. Keberadaan pusat unggulan ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan data antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Rektor Unpatti berharap berbagai persoalan di lingkungan sekitar dapat diatasi melalui kolaborasi ini. Menurutnya, kontribusi bersama bagi pembangunan daerah harus diwujudkan dalam program-program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr. Ruslan H. S. Tawari, S.Pi., M.Si.; para dekan; Kepala LPPM, Dr. Estevanus K. Huliselan, S.Pd., M.Si.; serta perwakilan Bappeda Provinsi Maluku dan PT. Hatfield Indonesia.