MALUKU — Pernyataan tegas itu disampaikan Ghosn dalam wawancara dengan Automotive News. Ia menilai pendekatan manajemennya yang agresif di masa lalu terbukti lebih efektif dibandingkan strategi yang dijalankan manajemen Nissan saat ini. Menurut Ghosn, situasi sulit yang tengah dihadapi Nissan menjadi bukti nyata atas klaimnya tersebut.
Meski percaya diri dengan kemampuannya, Ghosn sadar betul bahwa jalan untuk kembali ke kursi direksi Nissan tertutup rapat. Ia masih menjadi buronan otoritas Jepang setelah melarikan diri ke Lebanon pada akhir 2019, tepat sebelum sidang kasus dugaan pelanggaran keuangan dimulai.
Interpol bahkan telah menerbitkan red notice terhadapnya. "Saya pikir dengan semua hambatan hukum dan bagaimana sistem hukum Jepang bekerja, hal seperti itu tidak akan terjadi," ujar Ghosn, merujuk pada kemungkinan dirinya kembali memimpin Nissan.
Ghosn dikenal sebagai sosok yang menyelamatkan Nissan dari jurang kebangkrutan pada akhir 1990-an. Aliansi strategis dengan Renault yang ia bangun berhasil memangkas biaya produksi secara besar-besaran dan mengembalikan profitabilitas perusahaan dalam waktu singkat.
Namun, gaya manajemennya yang otoriter dan kontroversial juga menuai kritik. Kasus hukum yang menjeratnya bermula dari laporan internal Nissan sendiri yang menduga ia menyembunyikan sebagian pendapatannya serta menyalahgunakan aset perusahaan untuk keperluan pribadi.
Saat ini, Nissan masih berjuang memulihkan citra dan kinerja keuangannya di tengah persaingan ketat industri otomotif global. Perusahaan telah melakukan berbagai restrukturisasi, termasuk memangkas lini produksi dan menutup beberapa pabrik di berbagai negara.
Pernyataan Ghosn ini muncul di saat publik tengah menyoroti langkah Nissan ke depan setelah resmi memutuskan aliansi jangka panjang dengan Honda. Langkah strategis itu disebut-sebut sebagai upaya Nissan untuk bertahan di era elektrifikasi, meski Ghosn justru meragukan efektivitas pendekatan tersebut.