MALUKU — Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat permohonan resmi ke BNPB pada Senin (14/4) malam. “Kami minta bantuan helikopter water bombing karena titik api berada di zona yang tidak bisa dijangkau mobil pemadam. Medannya curam dan jalan setapak tidak memadai,” ujarnya kepada wartawan.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin melanda area seluas sekitar dua hektare. Petugas pemadam dari BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup sempat berupaya menjangkau titik api dari sisi timur dan utara, tapi terkendala tebalnya timbunan sampah yang mencapai belasan meter serta akses jalan yang longsor.
Ujat menambahkan, angin kencang di lokasi membuat api cepat merambat ke tumpukan sampah kering di sekitarnya. “Kalau tidak segera dipadamkan dari udara, bukan tidak mungkin api menjalar ke area pemukiman warga yang berjarak sekitar 200 meter,” katanya.
BNPB dijadwalkan mengerahkan satu unit helikopter tipe Bell 412 EP dengan kapasitas angkut air sekitar 1.200 liter per trip. Sumber air akan diambil dari Waduk Gintung yang berjarak sekitar lima kilometer dari TPA. Operasi water bombing direncanakan dimulai Rabu (16/4) pagi jika kondisi cuaca mendukung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari, membenarkan telah menerima permohonan dari BPBD Tangerang. “Kami sedang menyiapkan armada dan mengkaji rute terbang. Prioritas utama adalah memastikan titik api di TPA Jatiwaringin benar-benar padam sebelum musim kemarau puncak tiba,” jelasnya dalam keterangan tertulis.
Kebakaran yang sudah berlangsung sejak Jumat (11/4) ini menghasilkan asap tebal yang menyebar ke permukiman di Kelurahan Jatiwaringin dan sekitarnya. Sejumlah warga melaporkan gangguan pernapasan ringan dan iritasi mata. Puskesmas setempat mencatat peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 30 persen dalam tiga hari terakhir.
BPBD Tangerang juga mengimbau warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan menutup sumber air bersih agar tidak terkontaminasi abu sisa pembakaran. Petugas masih terus melakukan pendinginan di area yang sudah terbakar menggunakan alat berat dan pompa portabel.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin bukan kali pertama terjadi. Pada 2022, insiden serupa juga melanda kawasan yang sama dan baru bisa dipadamkan setelah BNPB mengerahkan helikopter water bombing. Ujat mengakui, keterbatasan infrastruktur pemadam di lokasi TPA menjadi persoalan struktural yang belum terselesaikan.
“Ke depan kami akan mendorong pembangunan bak penampung air dan jalan inspeksi di titik-titik rawan kebakaran. Tapi untuk sekarang, water bombing adalah solusi tercepat,” pungkasnya.