JAKARTA — IHSG BEI dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut naik 1,30 poin atau 0,22 persen ke posisi 583,08.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa sentimen positif dari mancanegara datang setelah data ketenagakerjaan AS lebih lemah dari ekspektasi. Hal itu memperkuat peluang pelonggaran kebijakan moneter The Fed.
"Pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan meningkatkan posisi pada aset berisiko," ujar Liza.
Faktor lain yang turut mendorong penguatan IHSG adalah meredanya ketegangan di Timur Tengah. Negosiasi damai antara AS dan Iran disebut menunjukkan kemajuan, sehingga aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terus pulih.
Liza menambahkan, ekspor minyak Arab Saudi telah kembali sekitar 90 persen dari level sebelum konflik. "Perkembangan tersebut membantu menekan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global," jelasnya.
Di tengah optimisme global, sentimen domestik masih dibayangi sejumlah tekanan. Liza menyebutkan defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020, kontraksi aktivitas manufaktur, serta peringatan Fitch Ratings terkait penurunan cadangan devisa masih menjadi perhatian.
Dari sisi kebijakan, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mulai memperkuat pengawasan perpajakan ekonomi digital. Data transaksi dari Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli akan dimanfaatkan untuk memantau omzet pedagang online.
Melalui implementasi PMK No. 37 Tahun 2025, marketplace ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen atas omzet pedagang mulai 1 Agustus 2026. Data tersebut akan digunakan untuk memverifikasi omzet wajib pajak, khususnya pelaku usaha dengan omzet di atas Rp4,8 miliar per tahun yang belum berstatus Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Ke depan, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan sangat tergantung pada sejumlah data ekonomi yang akan dirilis. Pelaku pasar menanti data ISM Services PMI AS, risalah FOMC The Fed, serta data inflasi China.
Selain itu, fokus juga tertuju pada perkembangan negosiasi dagang antara AS dan Uni Eropa, serta potensi dampak kebijakan tarif terhadap sektor manufaktur global. Di dalam negeri, pelaku pasar menantikan data cadangan devisa (cadev), keyakinan konsumen, data penjualan ritel Bank Indonesia (BI), serta stabilitas kurs Rupiah.
Sementara itu, bursa saham regional Asia pagi ini bergerak mixed. Indeks Nikkei melemah 0,93 persen ke 69.080,00, indeks Shanghai melemah 0,26 persen ke 4.003,00, indeks Hang Seng menguat 1,25 persen ke 23.641,00, dan indeks Strait Times menguat 0,02 persen ke 5.245,70.