AMBON — Pemerintah pusat akhirnya menindaklanjuti usulan pemda untuk memperbesar kapasitas Bandara Bandanaira. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, panjang runway saat ini yang hanya 900 meter dengan lebar 30 meter dinilai tak mampu melayani pesawat berbadan lebar. Rencananya, landasan akan ditambah hingga 2,1 sampai 2,2 kilometer.
"Jadi kita akan bikin 2,1 sampai 2,2 Km bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan untuk memperpanjang runway menjadi 2,2 km," ujar Dody saat meninjau lokasi di Kepulauan Banda, Sabtu (11/7/2026).
Kepulauan Banda berada di kawasan cincin api yang rawan aktivitas vulkanik. Dody menekankan, runway yang lebih panjang menjadi kebutuhan mendesak untuk kesiapsiagaan bencana. Dengan panjang saat ini, pesawat angkut militer seperti Hercules tak bisa mendarat.
"Ini kan masih daerah rawan bencana dekat gunung berapi yang bisa meletus setiap saat. Sementara runway saat ini tidak sampai 1 kilometer, sehingga tidak masuk pesawat Hercules," kata Dody.
Dengan runway sepanjang 2,2 km nanti, mobilisasi logistik, evakuasi warga, dan penanganan darurat saat erupsi Gunung Api Banda bisa dilakukan lebih cepat. Pesawat berkapasitas besar juga diproyeksikan bisa membuka akses penerbangan komersial yang lebih luas.
Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir menyambut positif komitmen ini. Menurutnya, akses yang lebih terbuka akan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Ini adalah langkah penting bagi kami. Dengan akses yang lebih terbuka, kami optimistis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," ujar Zulkarnain.
Kepulauan Banda dikenal sebagai destinasi wisata bahari dan sejarah unggulan Indonesia. Selama ini, keterbatasan akses udara menjadi kendala utama. Dengan runway yang lebih panjang, pesawat berbadan besar bisa mendarat, yang otomatis meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Pemerintah berharap pengembangan bandara ini bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di Maluku. Proyek ini merupakan kerja sama antara Kementerian PU dan Kementerian Perhubungan, dengan target peningkatan konektivitas dan kesiapsiagaan bencana secara bersamaan.