MALUKU — Kenaikan harga energi di Amerika Serikat kini menjadi konsekuensi langsung dari operasi militer di Timur Tengah. Gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia, memicu lonjakan harga minyak mentah global dan berimbas ke kantong konsumen di dalam negeri.
Dalam acara di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026), Trump secara gamblang meminta publik AS tidak mengeluh soal harga bensin yang lebih mahal. Ia mengaitkan biaya tersebut dengan upaya menghentikan ambisi nuklir Teheran.
Trump menegaskan bahwa pengorbanan finansial warga AS adalah bagian dari "jasa besar bagi dunia". Ia mengklaim pemerintahannya berhasil mencegah negara yang disebutnya "sangat jahat" itu memiliki senjata nuklir.
"Membayar sedikit lebih mahal untuk bensin," kata Trump seperti dikutip Reuters, Minggu (16/8/2026), sambil menambahkan bahwa ia tidak akan meminta maaf atas serangan terhadap Iran yang berdampak pada harga minyak dunia.
Pernyataan ini menjadi bumerang politik bagi Trump. Sebelumnya, ia berkampanye dengan janji menurunkan biaya energi bagi masyarakat AS. Data American Automobile Association (AAA) mencatat harga rata-rata bensin nasional mencapai 4,08 dollar AS per galon—melonjak 29 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Di tengah ketegangan yang belum mereda, Trump melontarkan pernyataan kontroversial: ia akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah konflik berakhir. "Setelah kami selesai mengalahkan Iran... tak lama lagi saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah AS," ujarnya.
Belum jelas apakah pernyataan tersebut merupakan kebijakan resmi atau sekadar retorika kampanye. Iran, di sisi lain, mengeklaim kendali penuh atas selat tersebut dan menegaskan jalur itu tidak bisa dikuasai begitu saja oleh AS. Lalu lintas kapal di selat strategis itu pun sudah turun tajam dibandingkan kondisi sebelum konflik.
Kenaikan harga BBM di AS tidak hanya menjadi beban konsumen, tetapi juga tekanan inflasi yang bisa menggerus daya beli. Situasi ini mengingatkan pada krisis energi 1970-an, ketika embargo minyak Arab memicu stagflasi berkepanjangan.
Bagi pasar otomotif, harga BBM yang tinggi biasanya mendorong pergeseran permintaan ke kendaraan hemat energi. Namun, dengan konflik yang masih berlangsung dan ketidakpastian pasokan, para analis memperkirakan volatilitas harga akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Trump tampaknya sadar penuh risiko politik ini. Namun, ia berkeras bahwa keamanan global lebih penting daripada stabilitas harga di dalam negeri. "Kami benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat," klaimnya, merespons kritik yang mulai berdatangan dari berbagai kalangan.