MALUKU — Rekomendasi tersebut akan mencakup masukan terkait implementasi EBT, termasuk perbaikan regulasi yang dinilai menghambat realisasi proyek di lapangan. Ketua Umum METI Norman Ginting mengatakan pihaknya akan merangkum seluruh hasil diskusi dan komitmen selama tiga hari penyelenggaraan untuk disampaikan ke pemerintah.
"Setelah event ini, banyak diskusi, banyak signing, banyak komitmen terkait dengan rencana bagaimana mendukung program-program strategis pemerintah untuk percepatan energi baru terbarukan," ujar Norman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/9).
Pembahasan dalam konferensi tahun ini tidak lagi berfokus pada pembangkit listrik semata. Norman menjelaskan ruang lingkup diskusi meluas ke pemanfaatan langsung EBT untuk mendorong ekonomi masyarakat, mencakup program biofuel B50, etanol E20, nilai ekonomi karbon, hingga waste to energy.
"Di momen IndoEBTKE kali ini kita bisa melihat bahwa warna dari energi baru terbarukan ini tidak hanya tentang berbasis green listrik, tidak hanya berbasis membangun pembangkit listrik. Tapi kita juga di sini membahas tentang biofuel, bioethanol, dan termasuk nilai ekonomi karbon," jelasnya.
Perluasan cakupan ini sejalan dengan target pemerintah membangun kapasitas 100 GW dari energi terbarukan. Norman menilai antusiasme peserta yang terus bertambah setiap harinya menunjukkan komitmen kuat pelaku industri untuk mendorong implementasi EBT di Indonesia.
Dari sisi ekonomi, Norman meyakini rangkaian komitmen yang terkumpul akan menjadi pendorong investasi signifikan di sektor energi terbarukan. Efek berganda yang diharapkan mencakup pertumbuhan ekonomi yang lebih masif serta penciptaan lapangan kerja hijau atau green job.
"Jadi ada harapan yang tinggi. Kita tahu bahwa rencana strategis program pemerintah ini akan menjadi semacam dorongan terhadap investasi yang luar biasa di sektor energi baru terbarukan, yang pada intinya nanti akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih masif lagi," tuturnya.
METI berkomitmen menyusun masukan tersebut secara komprehensif, termasuk rekomendasi perbaikan regulasi yang diperlukan agar implementasi EBT dapat terealisasi lebih cepat. "Karena apapun namanya, ini perlu dorongan, perlu dukungan regulasi sehingga nantinya implementasi ini bisa terealisir lebih cepat dirasakan," kata Norman.
Wakil Ketua Umum METI Hokkop Satungkir merinci capaian penyelenggaraan tahun ini. Lebih dari 7.000 partisipasi tercatat, terdiri dari sekitar 1.785 delegasi konferensi dan lebih dari 5.000 pengunjung pameran. Acara ini turut menghadirkan 110 pembicara nasional dan internasional, 20 sesi diskusi strategis, serta 22 eksibitor.
Sepanjang tiga hari, tercatat 16 penandatanganan kerja sama yang mencakup pengembangan EBT, program LTS 100 GW, bioenergy dan biofuel, hidrogen hijau berbasis biomassa, konservasi energi, penguatan SDM, hingga pembiayaan berkelanjutan.
Hokkop menegaskan percepatan transisi energi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. "Pemerintah sudah memberikan arah kebijakan, dunia usaha menghadirkan investasi dan implementasi, akademisi serta peneliti menghadirkan inovasi, masyarakat memastikan manfaat transisi energi dapat dirasakan secara luas," ujarnya.
Rangkaian hari terakhir acara membahas isu waste to energy, infrastruktur EBT, battery energy storage system, smart grid dan green super grid, hingga pembiayaan proyek energi bersih.