Pencarian

PM Belanda Minta Maaf ke Komunitas Maluku atas Perlakuan Tak Berperasaan terhadap Eks Tentara KNIL, Pengakuan Datang Setelah 75 Tahun

Selasa, 30 Juni 2026 • 23:40:31 WIB
PM Belanda Minta Maaf ke Komunitas Maluku atas Perlakuan Tak Berperasaan terhadap Eks Tentara KNIL, Pengakuan Datang Setelah 75 Tahun
Perdana Menteri Belanda Rob Jetten menyampaikan permintaan maaf kepada komunitas Maluku atas perlakuan terhadap eks tentara KNIL.

ROTTERDAM — Perdana Menteri Belanda Rob Jetten mengakui pemerintahannya telah gagal memberikan perlakuan yang layak kepada para mantan serdadu Maluku setelah mereka dipindahkan dari tanah kelahirannya. Pengakuan ini disampaikan lebih dari tujuh dekade setelah komunitas Maluku di Belanda menanti kejelasan atas luka sejarah yang mereka alami.

Dalam pidato peresmian Monumen Nasional Maluku Ulu Kora di Lloydkade, Jetten menyebut perlakuan terhadap eks tentara KNIL sebagai tindakan yang tidak berperasaan dan tidak terhormat. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki nilai historis sebagai pelabuhan tempat kapal terakhir yang membawa para mantan tentara KNIL asal Maluku dan keluarganya tiba di Belanda pada 1951.

Isi Permintaan Maaf Pemerintah Belanda

Jetten menyampaikan permintaan maaf untuk sejumlah kegagalan pemerintah Belanda. Ia menyebut pemberhentian mereka sebagai tentara dilakukan secara tidak berperasaan dan tidak terhormat, diikuti dengan penerimaan dan tempat tinggal yang tidak memadai.

"Karena mereka tidak diperhatikan dan ditinggalkan, atas kerinduan untuk pulang yang tidak pernah terwujud, atas kesedihan dan penderitaan dalam begitu banyak keluarga Maluku, untuk semua itu saya menyampaikan permintaan maaf hari ini atas nama pemerintah Belanda," ujar Jetten dalam pidatonya.

Monumen Jadi Simbol Pengakuan Sejarah

Monumen Nasional Maluku Ulu Kora diresmikan sebagai pengingat atas perjalanan panjang komunitas Maluku di Belanda. Pembangunan monumen ini menjadi bagian dari upaya rekonsiliasi sejarah yang telah lama dituntut oleh para veteran KNIL dan keturunan mereka.

Pengakuan dari pemerintah Belanda ini disambut haru oleh komunitas Maluku yang hadir dalam acara tersebut. Bagi mereka, permintaan maaf ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan atas penderitaan yang dialami selama puluhan tahun setelah diberhentikan dari kesatuan KNIL dan ditempatkan di Belanda tanpa kepastian nasib.

Follow maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: porostimur.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks