AMBON — Sebanyak 1.036 lulusan Universitas Pattimura (Unpatti) resmi dikukuhkan dalam Wisuda Periode Juli 2026 yang berlangsung di Kampus Poka, Ambon, Rabu (29/7/2026). Jumlah tersebut terdiri dari 899 lulusan Program Sarjana, 98 lulusan Program Magister, tujuh lulusan Program Doktor, tiga lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan 29 lulusan Pendidikan Profesi Dokter.
Rektor Unpatti, Prof. Dr. M. J. Saptenno, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Ia meminta para alumni untuk menjadi agen perubahan yang membawa dampak nyata bagi masyarakat Maluku dan Indonesia Timur.
Target Masuk 500 Besar Universitas Dunia
Di tengah prosesi wisuda, Rektor juga menyoroti target ambisius Unpatti untuk menembus peringkat 500 besar universitas dunia. Menurutnya, pencapaian itu membutuhkan percepatan di bidang riset, publikasi internasional, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Kami tidak hanya mengejar jumlah lulusan, tapi juga kualitas yang diakui global. Target kelas dunia ini harus dicapai dengan kerja keras seluruh sivitas akademika," ujar Rektor dalam pidatonya.
Lulusan Dokter dan Guru: Jawaban Kebutuhan Tenaga Kesehatan dan Pendidikan Maluku
Wisuda kali ini juga mencatatkan pengukuhan 29 lulusan Pendidikan Profesi Dokter dan tiga lulusan PPG. Rektor menilai kehadiran tenaga dokter dan guru baru ini sangat krusial mengingat kebutuhan Maluku akan tenaga profesional di bidang kesehatan dan pendidikan yang masih tinggi.
Unpatti, sebagai universitas negeri tertua di Maluku, terus berupaya mencetak lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional dan internasional. Para wisudawan diharapkan tidak hanya mencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja di daerah masing-masing.
Bagaimana Unpatti Mendorong Dampak Nyata ke Masyarakat?
Rektor menegaskan bahwa riset dan pengabdian masyarakat harus menjadi prioritas utama para alumni. Unpatti mendorong kolaborasi antara lulusan dengan pemerintah daerah dan sektor swasta untuk menyelesaikan persoalan konkret seperti ketahanan pangan, bencana alam, dan pengembangan pariwisata di Maluku.
"Gelar yang kalian sandang hari ini adalah alat untuk membangun kampung halaman. Jangan puas hanya dengan ijazah," pesan Prof. Saptenno.