AMBON — Sosok Dr. Johannes Leimena mungkin tidak sepopuler nama-nama pahlawan nasional lainnya. Namun, gagasannya tentang Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) telah menjadi tulang punggung layanan kesehatan dasar bagi jutaan rakyat Indonesia selama lebih dari setengah abad.
Bagi masyarakat Maluku, Leimena adalah bukti bahwa putra daerah bisa memberikan kontribusi monumental bagi bangsa. Pria yang akrab disapa Dr. Jo ini bukan sekadar menteri yang duduk di kursi pemerintahan, melainkan perajin sistem yang menyelamatkan nyawa di pelosok negeri.
Dari STOVIA ke Hati Nurani: Menolak Hidup Nyaman demi Rakyat Kecil
Setelah lulus dari STOVIA Batavia, jalan hidup Leimena bisa saja meluncur mulus sebagai dokter swasta di kota besar. Namun, ia memilih mengabdi di daerah-daerah terpencil Jawa Barat pada era 1930-an.
Di sana, ia menyaksikan kenyataan pahit: warga desa harus berjalan berkilo-kilometer melintasi bukit dan hutan hanya untuk mengobati luka kecil. Banyak anak meninggal karena diare yang seharusnya bisa dicegah dengan penanganan medis sederhana.
Pengalaman inilah yang kemudian membawanya pada sebuah keyakinan kuat: ilmu kedokteran tidak boleh menjadi menara gading. Ilmu itu harus turun ke bumi, menyentuh tangan-tangan legam para petani dan nelayan yang selama ini terlupakan.
Bandung Plan: Cetak Biru Revolusi Kesehatan yang Lahir di Tengah Revolusi
Saat dipercaya menjabat Menteri Kesehatan di tengah hiruk-pikuk mempertahankan kemerdekaan, Leimena tidak membuang waktu. Pada 1951, ia meluncurkan konsep yang dikenal dengan "Bandung Plan".
Gagasan ini lahir dari keprihatinan atas ketimpangan akses layanan kesehatan. Rumah sakit peninggalan Belanda hanya ada di kota-kota besar, sementara rakyat desa hanya mengandalkan dukun atau obat herbal yang sering kali tidak mempan mengatasi wabah malaria dan pes.
Prinsipnya sederhana namun mendalam: pelayanan kesehatan tidak boleh pasif menunggu pasien datang. Layanan harus aktif bergerak mendekati masyarakat, mengobati yang sakit sekaligus mencegah yang sehat agar tidak tertular.
Merombak Wajah Kesehatan: Integrasi Kuratif dan Preventif
Leimena membayangkan sebuah pos kesehatan kecil di setiap kecamatan yang dipimpin dokter atau mantri medis berdedikasi. Di pos inilah penyuluhan kebersihan air, gizi anak, dan imunisasi diberikan secara gratis dan berkala.
Ia mengintegrasikan aspek kuratif (pengobatan) dan preventif (pencegahan) ke dalam satu wadah. Gagasan ini terus disempurnakan melewati berbagai dinamika politik hingga akhirnya resmi bertransformasi menjadi sistem Puskesmas pada akhir 1960-an.
Leimena turun langsung ke lapangan untuk memeriksa kesiapan para kader kesehatan dan meyakinkan masyarakat desa agar tidak takut disuntik atau meminum obat dari pemerintah. Gaya bicaranya yang santun dan tenang membuat masyarakat menaruh hormat mendalam.
Hidup Sederhana di Tengah Kekuasaan
Meski menjadi salah satu menteri paling lama menjabat dalam sejarah Indonesia, Leimena tetap hidup dalam kesederhanaan ekstrem. Rekan-rekan sejawatnya sering bercerita bahwa Dr. Jo hanya memiliki beberapa helai kemeja rajut yang sudah pudar warnanya.
Ia tidak pernah memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta. Baginya, kekayaan sejati adalah melihat senyum seorang ibu di pelosok desa yang berhasil melahirkan dengan selamat, atau anak-anak yang tumbuh sehat karena mendapatkan imunisasi tepat waktu.
Julukan "Bapak Pencetus Puskesmas" yang melekat padanya adalah pengakuan atas dedikasi tanpa batas. Melalui sistem ini, hak dasar warga negara atas pelayanan medis yang layak dan terjangkau mulai terpenuhi secara merata.
Kisah Leimena adalah pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah dan mengibarkan bendera. Merdeka berarti rakyatnya sehat, anak-anaknya tumbuh kuat, dan ibunya tidak bertaruh nyawa saat melahirkan di pelosok desa.