DOBO — Bupati Kepulauan Aru, Maluku, Timotius Kaidel meminta para pengasuh Gereja Protestan Maluku (GPM) tidak lagi mengandalkan metode pengajaran lama. Ia secara khusus menyoroti kebutuhan para pengasuh untuk memahami kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini mewarnai keseharian anak-anak.
Pernyataan itu disampaikan Kaidel saat membuka Temu Raya Pengasuh yang digelar Jemaat GPM Karseka, Klasis Pulau-pulau Aru, Minggu (28/8/2026). Menurutnya, anak-anak saat ini adalah generasi Z dan Alpha yang tumbuh di tengah gempuran digitalisasi.
“Anak-anak kita kini adalah generasi Z dan Alpha. Mereka berhadapan langsung dengan gelombang digitalisasi dan perkembangan artificial intelligence. Karena itu dibutuhkan kepekaan para pengasuh untuk memahami realitas kehidupan anak,” ujar Kaidel dalam sambutannya.
Pengasuh Disebut Mitra Moral Negara
Kaidel menilai peran pengasuh bukan sekadar pendamping kegiatan Sekolah Minggu. Ia menyebut mereka sebagai “mitra moral negara” yang bertanggung jawab membangun sumber daya manusia berintegritas sejak usia dini.
“Pengasuhan merupakan proses pendidikan jangka panjang yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan nonformal dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan gereja memiliki posisi penting untuk melengkapi pendidikan formal di sekolah. Fokus utamanya adalah membangun fondasi etika, budi pekerti, kasih, dan karakter anak.
Mengapa Metode Pengajaran Harus Berubah?
Menurut Kaidel, tantangan pengasuh saat ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak menghadapi pola komunikasi, cara belajar, dan tantangan sosial yang berbeda akibat lingkungan digital.
Perkembangan teknologi, lanjutnya, tidak hanya memberikan kemudahan. Ia juga menghadirkan ancaman terhadap pembentukan moral dan karakter anak apabila tidak diimbangi dengan pengawasan yang tepat.
Karena itu, gereja dituntut menyesuaikan metode pengajaran dengan perkembangan zaman. Namun, penyesuaian itu harus tetap berpijak pada nilai-nilai dasar iman yang tidak bisa ditawar.
Target: Generasi Emas Gereja Menuju 2035
Kaidel berharap Temu Raya Pengasuh menjadi bagian dari strategi gereja mempersiapkan pendidikan yang berdampak pada pertumbuhan spiritualitas, kecerdasan etik, moral, sosial, dan ekologis anak.
Ia mengajak seluruh pengasuh untuk terus membekali diri dan semakin tangguh menjalankan tugas di Sekolah Minggu Tunas Metode Pengajaran Iman (SMTPI).
“Saya memohon supaya para pengasuh dapat memberi diri untuk terus dibekali dan semakin tangguh melaksanakan tugas pengasuhan di SMTPI, membentuk terus generasi emas gereja menuju satu abad GPM pada 2035, dan menjadi titian emas pula untuk Indonesia Emas 2045,” pintanya.
Dalam kesempatan itu, Kaidel menyampaikan apresiasi kepada pimpinan Sinode GPM, Klasis Pulau-pulau Aru, dan Jemaat Karseka atas kemitraan yang dibangun bersama pemerintah. Ia menegaskan sinergi antara pemerintah dan gereja menjadi kekuatan penting dalam membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat dalam iman dan moral.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kepulauan Aru Silvana Loy, Plh Sekda Adolop Pokar, Ketua Tim Penggerak PKK Kepulauan Aru Ny. Claudiyah Amarisah Kaidel, Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite, serta Ketua Klasis Pulau-pulau Aru Pdt. Hengky Musa, S.Th.