SERAM BAGIAN TIMUR — PHE Binaiya, pengelola Wilayah Kerja Blok Binaiya, mengawali rangkaian eksplorasi minyak dan gas bumi di lepas pantai Seram, Maluku. Kegiatan ini membidik tambahan produksi signifikan bagi Pertamina dalam satu dekade mendatang.
Proyeksi itu sejalan dengan target perusahaan yang memasang kapasitas produksi 95.000 hingga 100.000 barel minyak per hari. Namun, angka tersebut masih bergantung pada hasil validasi cadangan yang berjalan bertahap hingga 2036.
Tahap Awal Hanya Dua Survei: Batimetri dan Sedimen
Project Manager Wilayah Kerja Binaiya, Neni Herawati, menyebut survei awal saat ini masih terbatas pada dua kegiatan. Hal itu dilakukan untuk menjaring indikasi keberadaan hidrokarbon sebelum mengambil langkah eksplorasi yang lebih besar.
"Untuk yang sekarang ini hanya survei batimetri, kemudian mengambil sampel sedimen saja dulu, untuk melihat ada indikasi minyak atau tidak," kata Neni dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2026).
Data dari dua survei itu menjadi fondasi untuk memetakan struktur bawah permukaan laut. Hasilnya akan dikombinasikan dengan data seismik lama maupun baru guna memutuskan kelanjutan proyek.
Pengeboran Menunggu Hasil Survei Seismik 2027
PHE Binaiya menjadwalkan survei seismik pada tahun depan untuk memperoleh gambaran bawah permukaan yang lebih rinci. Dari data inilah perusahaan menilai apakah Blok Binaiya layak masuk tahap pengeboran.
"Kalau data seismiknya ada potensi, kita akan bor di tahun 2029. Kalau berhasil, nanti kita akan kembangkan," ujar Neni.
Keputusan mengebor bukan tanpa dasar. Perusahaan akan menggabungkan seluruh data survei baru dengan catatan seismik Southeast Seram milik Pertamina yang telah dikerjakan sebelumnya.
"Tahun depan kita akan ada survei seismik lagi juga. Kita akan kombinasi seluruh data itu, baru kita akan coba lihat potensinya," jelasnya.
Produksi 95-100 Ribu Barel per Hari: Target Besar di Tengah Ketidakpastian
Jika pengeboran 2029 berhasil mengonfirmasi cadangan ekonomis, pengembangan lapangan ditargetkan rampung pada 2036. PHE Binaiya menaksir kawasan ini mampu menyumbang produksi minyak baru berskala besar.
"Insya Allah ditargetkan di tahun 2036, di area Seram, di lepas pantai Seram ini bisa membuat produksi minyak. Kita bisa menambah produksi yang signifikan sekitar 95.000 sampai 100.000 barel oil per day," kata Neni.
Jumlah itu hampir setara dengan produksi beberapa lapangan tua di Indonesia. Pencapaiannya pun menuntut kepastian data geologi serta dukungan penuh pemangku kepentingan di Maluku.
Komunikasi dengan Pemkab SBT dan Siapkan Tenaga Kerja Lokal
Di luar urusan teknis, PHE Binaiya telah menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Langkah ini untuk memastikan kelancaran operasional di wilayah tersebut.
"Kami melakukan kunjungan penghormatan ke Pak Bupati untuk meminta dukungan juga supaya nanti acaranya, seluruh kegiatan kami, proyek-proyek kami dapat berjalan lancar," ungkapnya.
Perusahaan juga berkepentingan menyiapkan sumber daya manusia lokal sejak dini. Tidak hanya tenaga kerja level lapangan, PHE Binaiya ingin mendorong munculnya insinyur asal Seram agar masyarakat ikut menempati posisi teknis saat industri beroperasi penuh.
"Harapannya, kami tidak ingin masyarakat Seram itu bekerja hanya di level bawah. Nantinya mungkin harus ada yang engineer," ujar Neni.
Dengan peta jalan tersebut, Blok Binaiya kini memasuki fase panjang pengumpulan data. Survei awal menuju survei seismik, lalu pengeboran pada 2029, hingga target produksi 2036 yang menuntut konsistensi eksekusi dari hulu ke hilir.