AMBON — Gereja Protestan Maluku (GPM) memasuki usia 91 tahun pada 6 September 2026. Di tengah perayaan yang kerap diisi seremoni, Ketua Majelis Jemaat GPM Sion Ambon, Pdt Rudy Rahabeat, mengajak jemaat memaknai ulang tahun sebagai momentum pembaruan diri, bukan sekadar pernak-pernik perayaan.
Dalam refleksi tertulisnya, ia menyoroti perjalanan panjang GPM yang telah melintasi penjajahan Belanda, Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Menurutnya, berbagai turbulensi sejarah justru mendewasakan gereja, bukan melemahkannya.
Bersyukur di Tengah Turbulensi Sejarah
Pdt Rudy menegaskan bahwa rasa syukur tidak boleh hanya hadir saat keberhasilan. Keputusan GPM untuk mandiri pada 6 September 1935, saat Indonesia masih dijajah Belanda, disebutnya sebagai keputusan yang tidak mudah. Ia menyinggung sejumlah peristiwa berat yang dilalui gereja, mulai dari Pesan Tobat 1960, tragedi kemanusiaan 1999, hingga pandemi Covid-19.
"Bersyukur adalah sebuah pernyataan iman gereja. Bahwa GPM ada karena anugerah Tuhan," tulisnya, merujuk pada Mazmur 136 tentang kasih setia Tuhan yang kekal.
Misi Dekolonial dan Transformasi di Era Digital
Pdt Rudy menilai keputusan kemandirian GPM pada 1935 merupakan benih kemerdekaan yang membuka belenggu ideologis, politik, dan sosial budaya. Ia menelusuri gagasan ini dari pemikiran misiolog Belanda, Hendrik Kraemer, yang menekankan transformasi misi dalam konteks pluralisme.
Menurutnya, GPM tidak terbelenggu paradigma misi yang triumfalistik. Sebaliknya, gereja mengembangkan misi yang dinamis dan transformatif dengan bertumpu pada frasa "memanusiakan manusia" dan Injil yang utuh. Di era digital, GPM memasuki fase pelayanan berkualitas dengan menyasar pembebasan umat dari belenggu digital sekaligus menjadikannya kekuatan transformasi sosial.
Imajinasi Menuju Satu Abad GPM
Menatap satu abad GPM pada 2035, Pdt Rudy mengajak jemaat menggunakan imajinasi sebagai daya refleksi dan proyeksi, bukan khayalan. Ia mengkritik imajinasi kolonial ala Barat yang menganggap Timur eksotik dan barbar, sebagaimana dikritik Edward Said dalam buku Orientalism (1979).
Dalam lensa dekolonial, ia mengajak gereja mengimajinasikan tatanan dunia yang adil, egaliter, dan bebas dari penindasan modern. "Sebuah tatanan kehidupan bersama yang sejahtera, sesuatu yang memang harus diperjuangkan dengan iman," pungkasnya, merujuk pada imaji langit baru dan bumi baru dalam kitab Wahyu.