AMBON — Faperta Unpatti secara resmi menggaungkan transformasi sektor pertanian Maluku yang tidak lagi berorientasi pada peningkatan produksi semata. Arah baru ini menekankan pada inovasi, hilirisasi, penguatan pasar, kedaulatan pangan, serta pemanfaatan data dan teknologi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Kuliah Umum Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 bertema "Pertanian Maluku Masa Depan: Inovasi, Hilirisasi, Kedaulatan Pangan, dan Transformasi Berbasis Data Menuju Indonesia Emas 2045".
Mahasiswa Tak Cukup Kuasai Teori, Harus Mampu Baca Data
Wakil Dekan Bidang Akademik Faperta Unpatti, Dr. Jomima M. Tatipikalawan, S.Pt., M.P., menegaskan mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori. Mereka harus berpikir kritis, adaptif, inovatif, dan responsif terhadap dinamika sektor pertanian.
"Pertanian tidak hanya berbicara tentang produksi. Saat ini kita harus berbicara tentang inovasi, teknologi, hilirisasi, pasar, dan yang paling penting adalah pangan," tegasnya dalam sambutan pembukaan kuliah umum.
Jomima menyoroti penguasaan data sebagai kompetensi krusial di tengah transformasi digital. Kemampuan membaca, mengolah, dan memanfaatkan data dinilai penting untuk merumuskan kebijakan maupun mencari solusi atas persoalan pertanian.
Dua Narasumber Kunci: Dinas Pertanian dan BPS Maluku
Kuliah umum menghadirkan dua narasumber dengan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku, Dr. Ir. Ilham Taud, S.P., M.Si., memaparkan arah pembangunan sektor pertanian. Adapun Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, S.E., M.Si., menyajikan kondisi faktual pertanian berdasarkan data statistik.
Pemaparan materi dilanjutkan dengan diskusi interaktif bersama mahasiswa. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami tantangan sekaligus peluang sektor pertanian Maluku di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan pasar.
Target: Petani Muda Melek Teknologi dan Pasar
Faperta Unpatti berharap mahasiswa melihat masa depan pertanian Maluku secara lebih luas. Sektor ini tidak lagi diposisikan sebagai penyedia bahan pangan, melainkan sektor inovatif, produktif, dan berdaya saing yang menciptakan nilai tambah.
"Mahasiswa harus menjadi bagian yang aktif dalam melanjutkan perjuangan dan perkembangan pertanian di Provinsi Maluku," ujar Jomima.
Perubahan paradigma ini menjadi tantangan bagi generasi penerus pembangunan pertanian. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan teknologi dan data dalam menghadapi tantangan pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.