MALUKU — Keputusan mengejutkan ini diumumkan Jumat (20/3/2026) dan langsung menjadi sorotan media lokal maupun internasional. Azmoun, yang memiliki 57 gol dari 91 penampilan, dianggap sebagai pilar penting di lini serang. Absennya pemain binaan Zenit St Petersburg itu menimbulkan tanda tanya besar soal persiapan Iran menuju turnamen akbar tersebut.
Media pemerintah Iran, IRNA, merilis cedera sebagai alasan resmi pencoretan. Namun, pernyataan ini gagal meredam spekulasi yang beredar luas di kalangan penggemar. Banyak pihak meyakini bahwa aktivitas Azmoun di media sosial, terutama terkait isu-isu politik sensitif, menjadi faktor penentu.
Pelatih Amir Ghalenoei menyebut pemilihan skuad ini sebagai "keputusan teknis paling sulit" dalam kariernya. Ia bersikeras pemain dipilih murni berdasarkan kriteria teknis. Namun, pernyataan itu tidak cukup meyakinkan publik yang melihat adanya motif lain di balik pencoretan salah satu ikon sepak bola Iran.
Kehilangan striker sekaliber Azmoun menjadi pukulan berat bagi ambisi Iran untuk lolos dari fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya. Rekam jejaknya di Eropa bersama Bayer Leverkusen, AS Roma, dan Zenit sulit ditandingi pemain Asia lainnya. Banyak pengamat menilai kontribusinya di lapangan jauh lebih besar daripada masalah non-teknis yang mungkin ada.
Publik Iran kini terbelah. Sebagian mendukung keputusan pelatih demi menjaga harmoni tim, sebagian lainnya menyayangkan absennya pemain yang mampu mengubah jalannya pertandingan sendirian. Kontroversi ini tidak hanya mempengaruhi performa tim, tetapi juga menyoroti ketegangan politik yang terus membayangi sepak bola Iran.
Dengan 57 gol dari 91 penampilan, Azmoun adalah pencetak gol terbanyak kedua sepanjang sejarah timnas Iran. Angka itu menunjukkan betapa sulitnya mencari pengganti yang setara dalam waktu singkat. Keputusan Ghalenoei, apa pun motifnya, jelas menempatkan Iran dalam posisi sulit menjelang Piala Dunia 2026.