MALUKU — Thio Siujinata tidak menyangka usahanya yang bermodal kecil bisa melambung hingga ke luar negeri. Saat membuka Craftote Gallery & Coffee di Tomang, Jakarta Barat, tiga tahun lalu, ia hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut di lingkungan sekitar. Tapi kini, produk kerajinan tangannya sudah dikirim ke Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris.
“Perjalanan menuju ekspor tidak terjadi secara instan. Butuh proses panjang, termasuk pendampingan dari BRI,” kata Thio dalam keterangan resmi yang diterima, pekan lalu.
Craftote bukan sekadar toko kerajinan. Konsep usahanya dipadukan dengan coffee shop, sehingga pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan produk sambil menikmati kopi. Bahan baku yang digunakan semuanya serat alam: eceng gondok, pelepah pisang, purun, bambu, hingga rotan.
Thio memilih bahan-bahan ini karena sifatnya yang aman terdekomposisi. “Tidak merusak air, udara, atau tanah,” tegasnya. Serat-serat tersebut kemudian disulap menjadi tas, keranjang, kursi, hingga dekorasi lampu dan dinding.
Kunci tembusnya pasar internasional bukan hanya soal kualitas produk. Thio mengaku, BRI membantunya dari sisi permodalan dan perluasan jaringan. Melalui program pemberdayaan, ia mendapat pelatihan dan akses ke pameran dagang yang mempertemukan Craftote dengan buyer luar negeri.
Hasilnya, pesanan dari Kanada dan Australia mulai mengalir sejak awal 2024. Jepang dan Inggris menyusul beberapa bulan kemudian. Produk yang paling laris adalah tas anyaman eceng gondok dan lampu hias dari pelepah pisang.
Ekspor ini berdampak langsung pada pengrajin di sekitar Jakarta Barat dan sentra kerajinan di Jawa Barat. Thio kini mempekerjakan 15 perajin tetap dan puluhan perajin lepas. Omzet bulanan, menurut Thio, naik sekitar 40 persen sejak menembus pasar ekspor.
“Kami tidak hanya menjual produk, tapi juga memperkenalkan budaya Indonesia. Serat alam kami punya cerita,” ujarnya.
Ke depan, Thio berencana memperluas jangkauan ke Eropa dan Timur Tengah. Ia juga tengah mengembangkan lini produk baru dari limbah serat alam agar tidak ada bahan yang terbuang.