MALUKU — Ryamizard mengembuskan napas terakhir di usia 76 tahun. Ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada periode pertama pemerintahan Jokowi, 2014–2019. Sebelumnya, pria kelahiran Palembang ini meniti karier militer gemilang sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (2002–2005) dan Panglima Kostrad.
Program Bela Negara yang Kontroversial
Salah satu warisan kebijakan yang paling melekat dengan Ryamizard adalah program bela negara. Gagasan ini ia canangkan saat menjabat Menhan dan mewajibkan seluruh warga negara Indonesia untuk mengikutinya. Program itu langsung menuai pro dan kontra di masyarakat.
Ryamizard mengaku sempat dipanggil Presiden Jokowi terkait polemik tersebut. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa program bela negara bukanlah hal baru. "Saya dipanggil oleh Presiden. 'Bapak Menhan kalau melaksanakan sesuatu ada harmonisasi dulu, ada payung hukumnya. Minta maaf Pak Presiden ini sudah 13 tahun Bapak Presiden'," bebernya saat itu menirukan percakapannya dengan Jokowi.
Ia menegaskan, landasan hukum program itu sudah jelas, merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 dan 30. "Diam-diam aja ini. Itu saya mulai turun naik. Saya menggelorakan dua bulan jalan, kemudian payung hukumnya apa? Payung hukumnya jelas UUD 1945, Pasal 29 dan 30," ujarnya.
Jejak Karier Militer dan Inspirasi Gajah Mada
Ryamizard bukanlah nama yang tiba-tiba muncul di panggung nasional. Ia adalah lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1974. Karier militernya diisi dengan posisi-posisi strategis, mulai dari Komandan Peleton Kodam XII/Tanjungpura hingga Pangdam Jaya/Jayakarta.
Menurut biografi yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat, ketertarikannya pada dunia militer sudah tampak sejak kecil. Ia terinspirasi oleh Mahapatih Gajah Mada yang berhasil menyatukan Nusantara. Perjuangan ayahnya dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia juga disebut menjadi faktor penguat tekadnya masuk TNI.
Deretan jabatan mentereng yang pernah diembannya antara lain Panglima Divif 2/Kostrad (1998), Kepala Staf Kostrad (1998), Pangdam V/Brawijaya (1999), Pangdam Jaya/Jayakarta (1999–2000), dan Pangkostrad (2000–2002).
Warisan dan Kenangan dari Era Reformasi TNI
Di luar kontroversi program bela negara, Ryamizard dikenang sebagai perwira yang cerdas dan tangkas. Ia menjadi salah satu jenderal yang diperhitungkan di tubuh TNI Angkatan Darat. Bahkan setelah pensiun, Jokowi masih mempercayakannya untuk mengelola portofolio pertahanan negara selama lima tahun.
Kepergian Ryamizard menutup satu babak penting dalam sejarah pertahanan Indonesia, khususnya pada masa transisi kepemimpinan dari era Susilo Bambang Yudhoyono ke Joko Widodo. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga atau pemerintah mengenai rencana pemakaman almarhum.