MALUKU — Perusahaan subholding hulu Pertamina itu memastikan bahwa ladang West Qurna di Irak, salah satu aset strategisnya di luar negeri, benar-benar vakum berproduksi. Awang mengatakan keputusan penghentian operasi diambil atas permintaan otoritas setempat menyusul eskalasi militer yang tidak terkendali. Kondisi keamanan yang memburuk membuat seluruh personel dan aktivitas eksplorasi di lapangan terpaksa dievakuasi.
Kerugian produksi harian yang setara dengan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) ribuan kendaraan berat ini menjadi pukulan telak bagi PHE. Sebab, West Qurna selama ini menjadi salah satu ladang andalan Pertamina di kawasan Timur Tengah dengan kontribusi produksi yang signifikan.
Hilangnya 100.000 barel per hari dari Irak jelas mempersulit upaya Pertamina memenuhi target produksi minyak nasional yang sudah dibebankan pemerintah. Apalagi, saat ini PHE juga tengah gencar mengejar peningkatan produksi dari lapangan-lapangan tua di dalam negeri. Awang sebelumnya menyebut pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk menutup celah produksi ini, namun situasi geopolitik yang tidak menentu menjadi kendala utama.
Belum ada kepastian kapan ladang West Qurna bisa beroperasi kembali. PHE masih menunggu situasi keamanan di Irak benar-benar kondusif sebelum mengirimkan kembali pekerja dan mengaktifkan fasilitas produksi. "Kami terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan pemerintah Irak," kata Awang dalam pernyataan yang dikutip dari Dunia Energi.
Setiap barel minyak yang tidak terproduksi juga berarti setoran pajak dan dividen yang hilang ke kas negara. Dengan harga minyak mentah yang masih fluktuatif, kehilangan volume sebesar itu jelas menggerus potensi pendapatan negara dari sektor migas. PHE pun dipastikan harus me