DOBO — Suasana berbeda terlihat di Aula Ursia Urlima Polres Kepulauan Aru, Kamis (4/6/2026). Puluhan warga dari berbagai usia duduk melingkari papan ludo, sesekali bersorak saat bidak mereka mencapai kotak finis. Mereka adalah peserta turnamen ludo yang digelar institusi kepolisian setempat dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-80.
Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Albert Perwira Sihite, yang membuka langsung turnamen tersebut, menjelaskan bahwa permainan ini sengaja dipilih karena mudah dimainkan lintas usia. Mulai dari anak-anak hingga orang tua bisa ikut serta tanpa memerlukan kemampuan fisik khusus. “Melalui turnamen ini, kami ingin menciptakan suasana yang penuh kebersamaan dan kekeluargaan dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-80. Menang dan kalah adalah hal biasa dalam sebuah kompetisi, namun yang terpenting adalah menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas,” ujar Kapolres dalam sambutannya.
Salah satu peserta, Robert, mengaku turnamen ini menjadi ruang hiburan yang langka di tengah rutinitas warga Dobo. “Katong merasa sangat senang atas pelaksanaan turnamen ludo jelang HUT Bhayangkara ke-80,” katanya. Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini justru lebih efektif mendekatkan polisi dengan masyarakat dibandingkan acara formal di ruang tertutup.
AKBP Albert Perwira Sihite menekankan bahwa momentum HUT Bhayangkara harus dimanfaatkan untuk membangun komunikasi positif. Turnamen ludo, menurutnya, menjadi salah satu bentuk pendekatan humanis Polri yang ingin keluar dari citra institusi yang kaku. “Kami ingin memperkuat semangat persatuan dan kebersamaan, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap polisi dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Kepulauan Aru,” tegasnya.
Turnamen ludo ini hanyalah satu dari sekian agenda yang disiapkan Polres Kepulauan Aru dalam rangkaian HUT Bhayangkara ke-80. Ke depan, institusi tersebut juga akan menggelar berbagai kegiatan sosial, olahraga, dan kemasyarakatan lainnya yang melibatkan partisipasi publik secara langsung. Polri berharap, kegiatan-kegiatan ini bisa menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan emosional antara aparat dan warga di wilayah kepulauan tersebut.