MALUKU — Nissan terus menggenjot strategi kebangkitan mereka di era elektrifikasi. Setelah membuka jalur produksi baterai solid-state perdananya di pabrik Yokohama pada Januari 2025, pabrikan Jepang ini kini menggandeng perusahaan teknologi asal Inggris, Gelion, dalam proyek bersama yang diberi nama “Cost-effective, Resilient Solid-state Li-S”. Proyek ini juga melibatkan Nissan Technical Center Europe (NTCE) dan Universitas Oxford.
Inti dari proyek ini adalah teknologi NES (Nano-Encapsulated Sulfur) milik Gelion. Teknologi ini menggunakan sulfur sebagai material aktif katoda, menggantikan nikel dan kobalt yang harganya mahal dan rantai pasoknya rawan masalah. Sulfur sendiri adalah material yang melimpah dan murah.
Menurut laporan riset Longspur Capital Limited yang berjudul “Cheaper Than China”, teknologi katoda Gelion mampu diproduksi di negara-negara Barat dengan biaya lebih rendah dari biaya produksi baterai lithium-ion di China saat ini. Laporan itu menyebut potensi ini bisa “menyetarakan persaingan” di sektor baterai strategis.
Total biaya proyek ini sekitar 3,4 juta poundsterling atau setara Rp 68 miliar (kurs Rp 20.000 per pound). Dari jumlah itu, Gelion akan menerima dana hibah sekitar 2,4 juta poundsterling. Target komersialnya ambisius: prototipe komersial ditargetkan rampung pada tahun fiskal 2027, selaras dengan target Nissan meluncurkan EV solid-state pertamanya pada 2028.
Presiden Gelion UK and Europe, Adrien Amigues, menyebut proyek ini berpotensi menjadi game-changer bagi Inggris, Nissan, dan perusahaannya. “Teknologi kami sangat cocok untuk baterai solid-state,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Selain kemitraan dengan Gelion, Nissan juga menggandeng perusahaan asal AS, LiCAP Technologies, untuk masalah produksi massal. Nissan menggunakan teknologi Activated Dry Electrode milik LiCAP yang menghilangkan proses pengeringan dan pelarut. Pabrikan mengklaim metode ini memberi keunggulan signifikan dalam hal biaya dan efisiensi produksi.
Meski spesifikasi detail belum diungkap, beberapa pihak menyebut baterai solid-state mampu menggandakan jarak tempuh dibanding baterai lithium-ion konvensional, yakni lebih dari 1.000 km dalam sekali pengisian.
Di sisi lain, pabrikan China tidak tinggal diam. BYD misalnya, sudah memasuki tahap kritis pengembangan baterai solid-state berbasis sulfida. Chief Scientist BYD, Lian Yubo, mengatakan pada April lalu bahwa baterai all-solid-state sudah memasuki “tahap kritis” meski masih ada tantangan produksi massal. BYD berencana memproduksi terbatas tahun depan dan massal pada 2030.
Nissan sendiri juga meneken nota kesepahaman dengan Chery International untuk memproduksi kendaraan bagi pabrikan China itu di pabrik Nissan di Sunderland, Inggris. Langkah ini menunjukkan strategi Nissan yang tak hanya mengandalkan teknologi, tapi juga efisiensi produksi dan kemitraan lintas negara untuk bertahan di era elektrifikasi.