MALUKU — Pertandingan uji coba melawan Brasil dalam waktu dekat seolah menjadi ajang pembuktian bagi Maroko. Tim berjuluk Atlas Lions itu datang dengan status sebagai tim Afrika dengan pencapaian terbaik di ajang Piala Dunia, yakni finis di posisi keempat pada edisi 2022 lalu. Capaian itu langsung memicu pertanyaan besar: apakah kini giliran Maroko yang layak disebut sebagai representasi sepak bola Brasil di benua Afrika?
Sebelum Maroks bersinar di Qatar, Ghana sudah lebih dulu melekat dengan julukan tersebut. Label itu melekat berkat gaya bermain atraktif yang diadopsi dari Brasil pada era kejayaan Black Stars di era 1960-an.
Pelatih legendaris C.K. Gyamfi menjadi tokoh kunci di balik transformasi ini. Ia mempelajari metode Brasil dan menerapkannya langsung ke tim nasional Ghana. Hasilnya, Ghana sukses merebut gelar Piala Afrika pada 1963 dan 1965 dengan permainan menyerang yang memukau, membangun hubungan budaya sepak bola yang kuat antara kedua negara.
Gaya main Maroko di Piala Dunia 2022 memang tak sekadar meniru Brasil. Di bawah proyek kepelatihan baru, mereka memadukan organisasi permainan yang disiplin dengan kualitas teknik individu yang tinggi. Penguasaan bola dan rotasi posisi menjadi ciri khas yang membedakan mereka dari tim Afrika lain.
Materi pemain yang dimiliki saat ini juga menjadi modal besar. Nama-nama seperti Achraf Hakimi, Brahim Diaz, Ismael Saibari, Neil El Aynaoui, Ayyoub Bouaddi, dan Chemsdine Talbi diyakini bisa membawa permainan Maroko ke level yang lebih kreatif. Namun, perbandingan dengan Brasil memiliki batas karena setiap negara membawa identitas Afrika Utara yang berbeda.
Aljazair juga memiliki argumen kuat dalam perdebatan ini. Tradisi teknik tinggi sudah menjadi ciri khas mereka sejak era Belloumi dan Madjer, hingga generasi modern seperti Riyad Mahrez dan Youcef Belaili. Kemampuan individu pemain Aljazair selalu menjadi senjata utama yang sulit ditandingi.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa "Brasil dari Afrika" mungkin tidak akan pernah memiliki satu jawaban mutlak. Ghana memiliki sejarah, Aljazair punya tradisi teknik, dan Maroko memiliki pencapaian turnamen terbaru yang mengesankan.
Menjelang Piala Dunia 2026, yang lebih menarik justru bukan mencari satu pengganti, melainkan merayakan bahwa sepak bola Afrika kini memiliki banyak identitas dan gaya yang sama kuatnya.