Kisah Alfred Russel Wallace di Ternate: Surat yang Mengubah Teori Evolusi, Jejak Sang Ilmuwan di Maluku Utara

Penulis: Pandu Wibisono  •  Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:45:31 WIB
Jejak Alfred Russel Wallace di Ternate menjadi tonggak penting dalam sejarah teori evolusi.

TERNATE — Nama Alfred Russel Wallace mungkin tidak setenar Charles Darwin di kalangan awam, namun jejak pemikirannya di Maluku Utara menyimpan kisah besar. Alwi Sagaf Alhadar, Ketua KPID Maluku Utara, mengaku awalnya tidak terlalu peduli dengan Wallace. “Mungkin bukan hanya saya saja – yang tak miliki basis pengetahuan tentang mahluk hidup. Bisa jadi banyak kalangan praktisi biologi di Indonesia seperti saya,” ujarnya.

Namun, segalanya berubah setelah ia membaca artikel Profesor Sangkot Marzuki di Majalah TEMPO edisi 19 Mei 2008. Artikel berjudul "Surat dari Ternate" itu menggambarkan proses karir keilmuan Wallace hingga ia menemukan teori evolusi di kota rempah tersebut. “Profesor Sangkot menulis dengan lugas diimbangi gaya bahasa bertutur,” kata Alwi.

Surat dari Ternate yang Mengguncang Dunia Sains

Wallace menuangkan pemikirannya dalam makalah berjudul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type”. Inti dari makalah itu adalah munculnya variasi yang berbeda dengan spesies asli akibat proses adaptasi terhadap lingkungan yang berubah. Surat penting ini, yang dikenal sebagai "The Letter from Ternate", kemudian dikirim ke Charles Darwin di London.

Setibanya dokumen tersebut di Inggris, isinya langsung dibedah di hadapan Linnean Society London, sebuah forum ilmiah bergengsi dan kredibel. Alwi menekankan bahwa peristiwa ini menempatkan Ternate sebagai titik penting dalam sejarah sains dunia, bukan sekadar pulau penghasil cengkih.

Warisan Wallace yang Terlupakan di Indonesia

Bagi Alwi, cerita ini menjadi pengingat bahwa Indonesia, khususnya Maluku Utara, memiliki peran sentral dalam perkembangan teori evolusi. “Saya tahu Wallace itu penemu garis Wallacea (Wallace Line) yang memisahkan wilayah biogeografi hewan Asia dan Australia. Itu yang saya pelajari di SD. Hanya itu saja,” ujarnya. Namun, setelah membaca artikel tersebut, ia menyadari bahwa kontribusi Wallace jauh lebih besar dari sekadar garis pemisah fauna.

Alwi berharap kisah ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga mendorong penelitian lebih lanjut tentang jejak Wallace di Ternate. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia mengangkat kembali narasi tentang ilmuwan yang teorinya lahir dari pengamatan langsung di kepulauan timur Nusantara.

Wallace menghabiskan delapan tahun menjelajahi Kepulauan Melayu, termasuk Maluku, dan mengumpulkan ribuan spesimen. Surat dari Ternate yang ia kirimkan pada 1858 itulah yang akhirnya mendorong Darwin untuk segera menerbitkan "On the Origin of Species" pada tahun berikutnya.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: porostimur.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top