AMBON — Abdullah Vanath menyebut tradisi kurban di kampung-kampung Maluku mulai tergerus zaman. Suasana gotong royong saat penyembelihan, pembagian daging, hingga syiar Islam yang kental, menurut dia, harus terus dihidupkan kembali.
"Dulu suasana kurban di kampung-kampung sangat terasa, ada kebersamaan, gotong royong, dan syiar Islam yang kuat. Itu yang harus tetap dijaga," kata Wagub Maluku itu saat ditemui di kediamannya.
Penyembelihan di Rumah Tokoh Masyarakat Jadi Perekat Sosial
Abdullah menambahkan, pelaksanaan kurban di kediaman tokoh masyarakat perlu dipertahankan. Menurut dia, momen ini menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kedekatan antara pemimpin dengan warga.
Ia menjelaskan, tradisi Idul Adha di Maluku selama ini tidak hanya soal ibadah. Budaya saling membantu dan berbagi daging kurban kepada warga yang membutuhkan menjadi inti dari perayaan ini.
Arak-arakan Hewan Kurban hingga Seni Islam Lokal Masih Lestari di Negeri-Negeri Muslim
Di sejumlah wilayah Maluku, kata Abdullah, prosesi Idul Adha diwarnai gotong royong warga mempersiapkan penyembelihan. Pembagian daging secara merata hingga arak-arakan hewan kurban yang dipadukan dengan seni budaya Islam lokal masih dijumpai.
Tradisi tersebut masih terlihat di beberapa negeri atau desa Muslim di Pulau Ambon, Pulau Seram, dan wilayah Lease seperti Tulehu dan Liang. Kawasan-kawasan itu dikenal memiliki tradisi Islam yang kuat.
Komunitas Muslim di Maluku juga mempertahankan pembacaan takbir keliling, hadrat, serta pertunjukan kesenian Islam seperti Dabus dan Abdau pada momentum hari besar keagamaan, termasuk Idul Adha.
Hewan Kurban: Sapi Limousin 1,15 Ton dan Seekor Kambing
Pada Idul Adha tahun ini, hewan kurban yang disembelih di kediaman Wakil Gubernur Maluku terdiri dari satu ekor sapi jenis Limousin dengan berat sekitar 1,15 ton dan satu ekor kambing. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat yang berhak melalui koordinasi Panitia Hari Besar Islam (PHBI).