AMBON — Suasana Idul Adha di Negeri Hila, Maluku Tengah, selalu berbeda. Takbir bersahut-sahutan, anak-anak hingga lansia berjejer di sisi jalan, dan puluhan pemuda memikul kambing jantan terbesar di pundak mereka. Itulah Lawa Pipi, tradisi yang oleh masyarakat setempat dimaknai sebagai miniatur ibadah haji.
Rangkaian ritual dimulai sejak pagi dengan tahlilan di beranda Rumah Tua Ollong. Tokoh agama, tokoh adat, dan kasisi masjid berkumpul memanjatkan doa untuk para leluhur. Setelah itu, seekor kambing pilihan yang disebut "Kambing Temal" dikeluarkan. Hewan itu dipilih karena paling besar dan sehat, dan dimaknai sebagai simbol pengganti Nabi Ismail AS dalam kisah kurban.
Sa'i dan Thawaf dalam Rupa Tradisi Kampung
Para pemuda kemudian mengangkat Kambing Temal ke pundak. Dengan langkah cepat menyerupai lari kecil, mereka mengaraknya mengelilingi kampung. Warga menyebut prosesi ini melambangkan Sa'i, salah satu rukun haji yang dilakukan jamaah di Tanah Suci. Iring-iringan bergerak menuju Masjid Hasan Soleman Hila, sebuah masjid tua di tengah negeri adat.
Di halaman masjid, Kambing Temal kembali diarak mengelilingi bangunan sebanyak tujuh kali. Putaran itu menjadi simbol thawaf mengelilingi Ka'bah. Pada putaran terakhir, imam bersama penghulu masjid menyembelih kambing di lokasi yang telah disediakan di belakang masjid. Saat penyembelihan berlangsung, warga melemparkan uang logam dan kertas ke arah kambing. Ritual itu dimaknai sebagai lempar jumrah sekaligus doa tolak bala.
35 Kambing dan 9 Sapi Kurban, Uang Logam Jadi Rempah
Uang yang terkumpul dari lemparan warga tidak dibiarkan begitu saja. Pengurus masjid menggunakannya untuk membeli rempah-rempah dan kebutuhan memasak daging kurban. Daging itu kemudian dibagikan kepada warga kurang mampu. Pada Idul Adha tahun ini, masyarakat Hila menyembelih total 35 ekor kambing dan sembilan ekor sapi kurban.
Abubakar Tatisina, salah satu pengurus Masjid Hasan Soleman Hila, menjelaskan seluruh rangkaian Lawa Pipi merupakan representasi dari rukun-rukun haji yang dikerjakan di Mekkah. "Leluhur kita melihat setiap rukun haji yang dikerjakan di Mekkah, lalu dibuat dalam bentuk miniatur di tradisi Lawa Pipi ini," katanya. Menurutnya, tradisi ini juga menjadi sarana menanamkan nilai spiritual kepada generasi muda sekaligus mempererat hubungan sosial.
Festival Budaya: Hadrat, Samra, hingga Lomba Pidato Daerah
Ketua Panitia Festival Budaya Lawa Pipi, Kasim Assawala, menilai keterlibatan pemuda dalam setiap prosesi menunjukkan tradisi ini masih hidup. "Lawa Pipi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang harus dijaga," ujarnya. Selain prosesi adat, festival juga diramaikan atraksi seni tradisional seperti hadrat, samra, dan lomba pidato bahasa daerah.
Bagi warga Hila, Lawa Pipi bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa nilai keagamaan dan budaya bisa berjalan beriringan, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa kehilangan makna.