Pencarian

Penelitian Guru Besar UMI Ungkap Kesejahteraan Nelayan Kecil di Pulau Buru Masuk Kategori Kurang Berkelanjutan, Indeks Skor 42,00

Senin, 29 Juni 2026 • 20:55:01 WIB
Penelitian Guru Besar UMI Ungkap Kesejahteraan Nelayan Kecil di Pulau Buru Masuk Kategori Kurang Berkelanjutan, Indeks Skor 42,00
Penelitian UMI menunjukkan indeks kesejahteraan nelayan kecil Pulau Buru berada pada kategori kurang berkelanjutan dengan skor 42,00.

MAKASSAR — Riset yang dilakukan Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.Si., bersama tim dari Program Doktor Ilmu Perikanan UMI itu mencatat indeks keberlanjutan kesejahteraan nelayan kecil di Pulau Buru hanya mencapai angka 42,00. Angka tersebut masuk dalam kategori kurang berkelanjutan.

Hasil kajian ini dimuat dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries (EJABF) Volume 30, Issue 1, edisi Januari–Februari 2026. Judul lengkap riset tersebut adalah "Sustainability-Based Assessment of Small-Scale Fishermen's Welfare in Buru Regency, Maluku Province, Indonesia".

Empat Aspek Penilaian dan Sektor Terlemah

Penelitian ini menilai kesejahteraan nelayan melalui empat aspek utama: sosial budaya, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Dari keempat aspek tersebut, sektor kelembagaan menempati posisi dengan skor terendah.

Prof. Abdul Rauf saat dihubungi Humas UMI, Jumat (27/6), menjelaskan bahwa temuan ini menjadi sinyal perlunya perbaikan serius. "Ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar kesejahteraan masyarakat pesisir dapat meningkat," ujarnya.

Regulasi dan Perlindungan Nelayan Jadi Pekerjaan Rumah

Rendahnya skor pada aspek kelembagaan mengindikasikan lemahnya perlindungan terhadap nelayan, minimnya penguatan kelembagaan lokal, serta dukungan regulasi yang belum optimal. Sementara itu, tiga aspek lainnya—sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan—juga masih menghadapi tantangan yang memengaruhi kehidupan nelayan sehari-hari.

Menurut Prof. Abdul Rauf, hasil riset ini menjadi pengingat bahwa potensi sumber daya laut yang besar di Pulau Buru belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sektor perikanan. "Potensi tersebut perlu didukung oleh tata kelola yang baik agar benar-benar memberikan manfaat bagi nelayan," tegasnya.

Solusi: Akses Modal, Pendampingan, dan Kebijakan Berpihak

Guru Besar FPIK UMI itu berharap hasil penelitian ini bisa menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang lebih berpihak. "Kesejahteraan nelayan tidak cukup hanya ditopang oleh melimpahnya hasil laut. Diperlukan kebijakan yang memberikan perlindungan, akses permodalan, pendampingan, serta penguatan kelembagaan agar masyarakat pesisir mampu berkembang secara berkelanjutan," tuturnya.

Riset ini melibatkan tim peneliti yang terdiri dari Wilda Fesanrey (mahasiswa Program Doktor Ilmu Perikanan Pascasarjana UMI), Prof. Dr. Ir. Muh. Kasnir, M.Si., dan Dr. Ir. Hamsiah, M.Si. Publikasi internasional ini sekaligus menegaskan komitmen FPIK UMI dalam menghasilkan riset kemaritiman yang tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga menawarkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat pesisir Indonesia.

Follow maluku24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: umi.ac.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks