Namlea, pertengahan Agustus 2022. Seorang nelayan tua di Pelabuhan Namlea, Pulau Buru, bercerita bagaimana nenek moyangnya dulu berlayar membawa cengkih hingga ke pelabuhan Eropa. Bagi orang luar, Maluku mungkin hanya soal pantai dan pala. Tapi bagi yang lahir dan besar di kepulauan ini, sejarah adalah napas yang mengalir dalam setiap upacara adat dan sistem kekerabatan.
Akar sejarah Maluku tidak bisa dilepaskan dari perdagangan rempah. Pulau Ternate dan Tidore sempat menjadi pusat niaga global abad ke-16. Namun, kekayaan budaya yang lahir dari interaksi lintas bangsa itu tidak berhenti di catatan kolonial. Warisan itu masih hidup—dalam bahasa, dalam hukum adat, dan dalam ritual yang terus dijalankan.
1. Sistem Pela Gandong: Ikat Persaudaraan Lintas Pulau
Di tengah laut Banda, ada tradisi yang lebih tua dari negara-bangsa: Pela Gandong. Ini adalah perjanjian persaudaraan antara dua negeri (desa adat) yang melintasi batas agama dan pulau. Ketika satu negeri menggelar acara adat, negeri pela-nya wajib hadir membawa bantuan.
Sistem ini lahir dari kesepakatan leluhur untuk saling melindungi saat perang antar-kerajaan atau bencana alam. Sampai hari ini, warga negeri Haria di Saparua dan negeri Siri Sori di Seram masih menjalankan hubungan pela yang sudah berusia lebih dari 300 tahun. Tidak ada dokumen tertulis. Semua diwariskan secara lisan.
2. Upacara Cuci Negeri: Ritual Pembersihan Spiritual
Setiap tahun, beberapa negeri adat di Pulau Ambon dan Lease menggelar Cuci Negeri. Ini bukan sekadar bersih-bersih kampung. Warga berkumpul di baileo (balai adat) untuk doa bersama, kemudian berjalan kaki mengelilingi batas negeri sambil membawa air dari sumber mata air keramat.
Ritual ini bertujuan mengusir energi buruk dan memperbarui hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Di Negeri Hutumuri, Ambon, prosesi ini berlangsung selama tiga hari penuh. Warga yang merantau pulang khusus untuk ikut serta.
3. Musik Bambu Hitada: Orkestra dari Timur
Di Pulau Buru dan Seram, alat musik bambu bernama hitada masih dimainkan dalam acara adat. Bentuknya seperti angklung, tapi lebih besar dan menghasilkan nada yang lebih dalam. Satu set hitada biasanya terdiri dari 10-12 bilah bambu yang digantung pada bingkai kayu.
Yang menarik, setiap bilah bambu dipotong dan disetel dengan cara tradisional—tanpa alat ukur modern. Para pemain belajar secara turun-temurun. Di Desa Waeapo, Buru, kelompok hitada anak-anak mulai berlatih sejak usia 8 tahun.
4. Tradisi Sasi: Hukum Adat untuk Kelestarian Alam
Sasi adalah sistem larangan adat yang mengatur pengambilan sumber daya alam. Ketika sasi diberlakukan di suatu kawasan hutan atau laut, tidak ada seorang pun boleh mengambil hasil alam dari tempat itu selama periode tertentu. Pelanggar dikenai sanksi adat, mulai dari denda hingga dikucilkan.
Praktik ini sudah berlangsung berabad-abad. Di Kepulauan Kei, sasi laut diterapkan untuk menjaga populasi lola (sejenis kerang) dan teripang. Setelah masa sasi dibuka, warga memanen secara bergilir dan hanya dalam jumlah yang disepakati di baileo.
5. Tenun Ikat Tanimbar: Kain yang Menyimpan Silsilah
Di Kepulauan Tanimbar, perempuan menenun bukan sekadar membuat kain. Motif pada tenun ikat Tanimbar menceritakan garis keturunan, status sosial, dan peristiwa penting dalam keluarga. Satu lembar kain bisa memakan waktu 3-6 bulan pengerjaan.
Proses pewarnaan menggunakan bahan alami: akar mengkudu untuk merah, daun tarum untuk biru, dan kunyit untuk kuning. Kain ini dipakai dalam upacara pernikahan dan kematian. Harga selembar tenun asli bisa mencapai jutaan rupiah—bukan karena bahan, tapi karena waktu dan keahlian yang terkandung di dalamnya.
6. Kapata: Syair Lisan yang Menjadi Arsip Sejarah
Kapata adalah puisi lisan berbahasa daerah yang dinyanyikan dalam upacara adat. Isinya menceritakan asal-usul negeri, silsilah raja, atau peristiwa besar seperti letusan gunung dan perang. Tidak ada teks tertulis. Para tetua adat menghafalkan kapata dan mewariskannya ke generasi berikutnya.
Di Pulau Saparua, kapata masih dilantunkan saat pengangkatan raja negeri. Satu bait kapata bisa berdurasi 10-15 menit. Anak muda di beberapa negeri mulai merekam kapata dalam bentuk audio untuk mencegah kepunahan.
7. Perahu Tradisional: Dari Kora-Kora hingga Jukung
Kora-kora adalah perahu perang tradisional Maluku yang digunakan kerajaan-kerajaan kecil di masa lampau. Panjangnya bisa mencapai 25 meter dengan dua baris dayung di kiri-kanan. Sekarang, kora-kora hanya muncul dalam festival budaya atau acara adat tertentu.
Di Pulau Ambon, perahu tradisional yang masih sering dipakai adalah jukung—perahu kecil bercadik yang digunakan nelayan untuk melaut. Bentuknya ramping dan stabil di ombak. Pembuatan jukung masih dilakukan secara manual di galangan kecil di pesisir, seperti di Desa Eri dan Desa Hative Kecil.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud dengan Pela Gandong?
Pela Gandong adalah sistem persaudaraan adat antara dua negeri di Maluku yang melintasi perbedaan agama dan pulau. Hubungan ini diikat dengan sumpah leluhur dan diwariskan secara turun-temurun.
Apakah tradisi Sasi masih diterapkan?
Masih. Di beberapa negeri adat, sasi tetap dijalankan untuk mengatur pengambilan hasil hutan dan laut. Pemerintah daerah bahkan mulai mengintegrasikan sasi ke dalam program konservasi.
Di mana bisa melihat tenun ikat asli Maluku?
Tenun ikat khas Tanimbar bisa ditemukan di desa-desa di Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat. Beberapa galeri di Kota Ambon juga menjualnya, tapi pastikan Anda membeli dari pengrajin langsung untuk mendukung keberlanjutan tradisi.
Kapan waktu terbaik menyaksikan upacara adat di Maluku?
Biasanya bertepatan dengan musim panen atau hari besar adat yang berbeda di setiap negeri. Sebaiknya hubungi tokoh adat atau dinas pariwisata setempat sebelum datang, karena jadwal tidak selalu tetap.
Apakah bahasa daerah Maluku masih digunakan sehari-hari?
Ya. Bahasa Melayu Ambon menjadi lingua franca, tapi bahasa daerah seperti Bahasa Seram, Bahasa Kei, dan Bahasa Buru masih dipakai di rumah dan upacara adat. Jumlah penuturnya terus menurun di kalangan anak muda.
Maluku bukan museum. Setiap tradisi yang disebut di atas dijalankan oleh orang-orang yang masih hidup, yang memilih untuk merawat apa yang diwariskan. Jika Anda datang ke sana, jangan hanya mencari foto pantai. Duduklah di baileo, dengarkan kapata, dan lihat bagaimana sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti wujud.