AMBON — Fasilitas olahraga yang direncanakan menjadi pusat pembinaan atlet muda di Kota Ambon itu kini mangkrak. Proyek Tahun Anggaran 2025 itu belum menunjukkan tanda penyelesaian, meski anggaran telah digelontorkan.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) KBPUM Maluku, Ismail M. Lussy, menyoroti kondisi ini. Ia menilai proyek macet bukan sekadar soal bangunan fisik, melainkan menyangkut tata kelola dan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Anggaran Dipotong Rp 300 Juta, Dispora Akui Proyek Belum Siap
Kepala Dispora Provinsi Maluku, Sandy Wattimena, membenarkan bahwa lapangan basket tersebut belum rampung. "Memang belum siap karena ada efisiensi anggaran. Anggarannya sebenarnya Rp 900 juta, tetapi terkena pemotongan sehingga tersisa sekitar Rp 600 juta," ujarnya.
Meski begitu, Sandy memastikan pembangunan akan dilanjutkan. Pihaknya telah mengusulkan anggaran lanjutan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
Gubernur Minta Atap Ditambahkan, Anggaran Bisa Membengkak
Ada perubahan spesifikasi yang membuat proyek ini semakin kompleks. Sandy mengungkapkan bahwa Gubernur Maluku menginginkan lapangan basket itu dilengkapi dengan atap penutup.
"Pak Gubernur meminta agar pembangunan nantinya menggunakan penutup atau atap, sehingga kemungkinan kebutuhan anggarannya akan lebih besar dari nilai pemotongan Rp 300 juta tersebut," kata Sandy.
Dengan demikian, kebutuhan dana untuk menyelesaikan proyek ini diperkirakan melampaui pagu awal yang sempat dipangkas.
KBPUM Soroti Pengawasan dan Transparansi Penggunaan APBD
Ismail Lussy menekankan bahwa persoalan ini bukan hanya soal teknis pembangunan. Ia mendesak pemerintah daerah untuk memberikan penjelasan terbuka kepada publik mengenai status proyek, realisasi anggaran, dan langkah penyelesaiannya.
"Setiap rupiah yang bersumber dari APBD merupakan amanah masyarakat yang harus dikelola secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel," tegas Lussy kepada Tribun Maluku, Selasa (14/7/2026).
Ia menambahkan, jika ditemukan dugaan penyimpangan, aparat pengawas internal harus melakukan pemeriksaan secara objektif. Sebaliknya, jika keterlambatan disebabkan faktor teknis, pemerintah wajib menyampaikannya secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi.
Harapan Warga: Mandala Remaja Kembali Jadi Pusat Olahraga Representatif
Kompleks Mandala Remaja selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan olahraga dan rekreasi di pusat Kota Ambon. Warga berharap lapangan basket yang mangkrak itu segera difungsikan kembali.
"Persoalan ini bukan semata-mata tentang sebuah lapangan basket yang belum selesai, melainkan tentang bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan masyarakat melalui pengelolaan anggaran yang transparan, profesional dan bertanggung jawab," ujar Lussy.