SULAWESI TENGAH — Peristiwa yang dikenal sebagai Kudatuli itu menandai konflik internal PDI yang berujung pada penyerangan terhadap pendukung Megawati Soekarnoputri. Hingga kini, belum ada satu pun aktor intelektual yang diadili, dan beberapa korban masih berstatus hilang. PDIP menilai negara memiliki tanggung jawab moral untuk menuntaskan kasus ini.
Korban Hilang dan Pelanggaran HAM Berat yang Tak Kunjung Tuntas
"Luka Kudatuli ini bukanlah luka PDI. Ini adalah luka Republik Indonesia," ujar Hasto dalam keterangannya. Ia menegaskan tuntutan tersebut bukan didasari dendam politik, melainkan upaya menegakkan keadilan dan moralitas bangsa. Menurut Hasto, penyelesaian kasus 27 Juli 1996 harus menjadi bagian dari pengungkapan seluruh pelanggaran HAM berat masa lalu, termasuk Peristiwa 1965.
PDIP juga mendorong dibentuknya pengadilan koneksitas yang menggabungkan proses pidana militer dan sipil. Langkah ini dinilai penting untuk menjangkau semua pihak yang terlibat, dari pelaku lapangan hingga otak di balik penyerangan. Hasto mengingatkan bahwa Kudatuli menjadi salah satu titik awal lahirnya gerakan reformasi 1998.
Semangat Reformasi dan Tantangan Kebebasan Sipil
Dalam kesempatan yang sama, Hasto menyoroti praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dinilai masih marak. "PDI Perjuangan percaya, tidak akan pernah ada mafia dalam bentuk apa pun, tanpa dukungan kekuasaan," tegasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pemisahan TNI dan Polri yang merupakan salah satu capaian reformasi.
Menurut Hasto, kebebasan sipil seperti berpendapat, berserikat, dan berkumpul kini menghadapi tantangan baru. Kritik terhadap pemerintah kerap dipandang sebagai ancaman kekuasaan. "Kudatuli dan berbagai wajah otoritarianisme pada masa Orde Baru pengaruhnya tidak memudar sampai hari ini," ujarnya.
Empat Prinsip dari Megawati: Satyam Eva Jayate
Hasto menutup pernyataannya dengan mengutip pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Ia menyebut empat prinsip—keyakinan, keteguhan, keberanian, dan kesabaran—bersatu menjadi kebenaran: Satyam Eva Jayate (kebenaran pasti menang). Peringatan 30 tahun Kudatuli diharapkan menjadi momentum mendorong negara menyelesaikan luka lama yang belum terobati.